Potretone.com, Sanana,- Peringatan International Women’s Day yang jatuh setiap 8 Maret menjadi momentum untuk merefleksikan perjuangan perempuan dalam meraih kesetaraan serta pemenuhan hak-hak mereka di berbagai bidang kehidupan.
Ketua Bidang Kesarinaan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kepulauan Sula, Yanti Tidore, Sabtu (7/3/2026).
Hari Perempuan Internasional tidak hanya dimaknai sebagai perayaan bagi kaum perempuan, tetapi juga sebagai pengingat atas perjalanan panjang perjuangan perempuan dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, dan politik.
“Peringatan 8 Maret bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk melihat kembali sejauh mana perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan gender dan pemenuhan hak-hak perempuan di seluruh dunia,” ujar Yanti.
Ia mengatakan, berbagai capaian yang diraih perempuan saat ini merupakan hasil dari perjuangan panjang yang terus berlangsung hingga sekarang. Namun demikian, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian serius, salah satunya terkait kekerasan terhadap perempuan.
Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 4.472 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan.
Menurut Yanti, angka tersebut menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, kasus kekerasan terhadap perempuan cenderung meningkat.
“Kekerasan terhadap perempuan merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian bersama. Perempuan tidak seharusnya dipandang sebagai objek, melainkan sebagai individu yang memiliki harkat, martabat, serta kedudukan yang setara, termasuk dalam peran kepemimpinan,” katanya.
Ia menilai, dalam kehidupan sosial, perempuan masih kerap menghadapi stigma yang menempatkan mereka pada posisi yang kurang diperhatikan. Padahal, perempuan memiliki peran penting dalam menopang kesejahteraan keluarga dan pembangunan ekonomi.
“Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi penopang kesejahteraan keluarga sekaligus fondasi penting bagi kemandirian ekonomi nasional,” ujar Yanti.
Melalui momentum Hari Perempuan Internasional, Yanti berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penghormatan terhadap hak-hak perempuan semakin meningkat.
“Perempuan bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang perjuangan yang terus hidup. Perempuan berhak berdaulat atas dirinya, berdikari dalam kehidupannya, dan berkebudayaan dalam perjuangannya,” katanya.
(RA)



















