banner 728x90
banner 728x90
BeritaDaerahMaluku UtaraNasionalOtomotifRegionalUncategorized

Warga Kou Geruduk Polres Sula, Desak Transparansi Kasus Kematian Alfian Soamole

378
×

Warga Kou Geruduk Polres Sula, Desak Transparansi Kasus Kematian Alfian Soamole

Sebarkan artikel ini

Potretone.com, Sanana,- Gelombang protes warga Desa Kou Kecamatan Mangoli Timur, memadati Polres Kepulauan Sula, Senin (1/12/2025).

Mereka menuntut transparansi dan keadilan atas kematian Alfian Soamole (28), yang diduga tewas setelah dikeroyok sekelompok warga dari Mangoli Tengah.

banner 728x90

Meski polisi telah menahan empat terduga pelaku, keluarga korban menilai penyidikan belum menyentuh pihak-pihak yang diduga ikut terlibat atau berada di lokasi kejadian.

Alfian dirawat selama tiga hari di RSUD Sanana namun akhirnya meninggal akibat luka serius.

Menurut keluarga, pola luka yang ditemukan semakin memunculkan dugaan adanya kekerasan brutal dan terorganisir.

Dalam dialog dengan keluarga, Wakapolres Kompol Arsad Ali Noh menegaskan bahwa penyidikan berjalan dan sudah ada tersangka.

Namun keluarga korban tidak puas. Mereka menilai banyak fakta penting belum disentuh penyidik.

Sarmin Soamole mengungkapkan kecurigaan kuat karena insiden terjadi tepat di depan rumah Danpos Pembantu Polsek Mangoli Timur.

“Harusnya Danpos diperiksa. Lokasi tepat di depan rumahnya. Kalau tidak diperiksa, wajar kami curiga,” tegas Sarmin.

Ia juga mengungkapkan bahwa luka-luka di tubuh korban mengarah pada dugaan pengeroyokan oleh pelaku yang terlatih.

“Badan penuh lebam, terutama bagian punggung. Ini bukan pukulan orang biasa,” katanya.

Saiful Soamole menambahkan bahwa aparat pembina wilayah turut lalai.

“Babinsa dan Bhabinkamtibmas seharusnya bertindak cepat. Ini wilayah mereka,” ujarnya.

Warga menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga seluruh pihak yang diduga terlibat dimintai pertanggungjawaban.

(Ra)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Potretone.com, Sanana,- Angin laut di Pelabuhan Sanana siang itu berembus pelan, seolah ikut membawa kenangan-kenangan lama yang hampir terlupakan. Di antara langkah kaki para penumpang yang turun dari kapal KM. Permata Obi pada 28 April 2026, ada sekelompok orang tua yang berjalan perlahan bukan semata karena usia, tetapi karena mereka sedang memikul sesuatu yang tidak sisa-sisa budaya yang kian menipis dimakan zaman.