banner 728x90
banner 728x90
BeritaBudayaDaerahNasional

Surga Tersembunyi di Tanjung Waka: Istri Wisatawan Jerman Kagum Saat Pertama Kali Jejakkan Kaki di Sula

76
×

Surga Tersembunyi di Tanjung Waka: Istri Wisatawan Jerman Kagum Saat Pertama Kali Jejakkan Kaki di Sula

Sebarkan artikel ini

Potretone.com, Kepulauan Sula, – Sebuah pengalaman tak terlupakan dirasakan oleh Indah Schneider, seorang perempuan yang baru pertama kali mengunjungi Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Ia datang bersama sang suami, Gerhard Schneider, dalam rangka perjalanan wisata ke wilayah Maluku Utara. Kunjungan ini membawa kesan mendalam bagi Indah, yang langsung menjuluki Sula sebagai “Surga Tersembunyi”.

“Saya sudah sering traveling keliling Indonesia, tapi Sula benar-benar berbeda. Ini pertama kali saya datang ke sini, dan rasanya seperti menemukan permata yang belum banyak dijamah wisatawan,” ungkap Indah Schneider saat ditemui di Sanana.

banner 728x90

Indah yang mengaku lebih suka tinggal bersama masyarakat lokal saat bepergian, merasa sangat nyaman berada di Sula. Ia menikmati kehangatan penduduk, keramahan budaya, hingga kelezatan kuliner khas daerah.

“Di sini makanannya unik dan enak-enak semua. Ada sayur lilin, jepa di buat dari sagu dan kelapa parutp, itu jarang saya temui di tempat lain, bahkan di Jakarta. Rasanya luar biasa,”tuturnya dengan antusias.

Bukan hanya kuliner, pemandangan alam Kepulauan Sula juga menyentuh hati Indah. Ia mengatakan bahwa beberapa pantai di Sula mengingatkannya pada kampung halaman neneknya.

“Pantai Waka dengan pasir putihnya, air laut yang jernih, tenang banget. Seperti melihat bagian kecil dari rumah masa kecil saya. Tapi ini versi tropis yang eksotis,” jelasnya penuh nostalgia. (RA)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Potretone.com, Sanana,- Angin laut di Pelabuhan Sanana siang itu berembus pelan, seolah ikut membawa kenangan-kenangan lama yang hampir terlupakan. Di antara langkah kaki para penumpang yang turun dari kapal KM. Permata Obi pada 28 April 2026, ada sekelompok orang tua yang berjalan perlahan bukan semata karena usia, tetapi karena mereka sedang memikul sesuatu yang tidak sisa-sisa budaya yang kian menipis dimakan zaman.