Potretone.com, Sanana,- Ada getar haru yang sulit disembunyikan sore tadi sambil menunggu waktu berbuka puasa. Di tengah suasana Ramadhan yang penuh berkah, masyarakat kembali diingatkan pada sebuah warisan leluhur yang nyaris redup oleh arus zaman “Gabalil Hai Sua.”
Bertempat di JsCaffe Desa Fatce Kecamatan Sanana, Senin (2/3/2026), Tim Panitia Gabalil Hai Sua secara resmi mengumumkan pemenang Sayembara Logo Sua Wel Bihu sekaligus melaunching rangkaian kegiatan Gabalil Hai Sua 2026 yang akan digelar pada 2 hingga 6 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-22 Kabupaten Kepulauan Sula.
Namun lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi momentum kebangkitan identitas dan kebanggaan masyarakat Sula.
Ketua Panitia, H. Ir. Faruk Bahnan, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya pra-aksi panitia.
“Alhamdulillah, agenda pertama telah kami rampungkan, yaitu pengumuman pemenang Sayembara Logo Sua Wel Bihu- Gabalil Hai Sua, yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama dan pembagian paket Ramadhan,” ungkapnya.
Sebanyak 23 peserta dari berbagai daerah seperti Sanana, Ternate, Ambon, Manado, Makassar hingga Yogyakarta turut ambil bagian dalam sayembara tersebut. Dari 16 logo yang masuk sesuai timeline, enam dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Tiga pemenang terbaik berhak atas total hadiah sebesar Rp5 juta.
Namun yang membuat suasana semakin mengharukan adalah ketika panitia bersama para donatur membagikan ratusan paket sembako kepada warga kurang mampu. Bantuan tersebut disumbangkan oleh Pengurus DOIN Cup dan panitia Gabalil Hai Sua sebagai bentuk kepedulian sosial di Bulan Suci Ramadhan.
“Besok ba’da Ashar seluruh paket akan dibagikan kepada penerima terdaftar. Semoga ini membawa keberkahan bagi kita semua,” tambah Haji Faruk.
Tradisi yang Hampir Terlupakan
Gabalil Hai Sua bukan sekadar perlombaan. Ia adalah simbol semangat kolektif, gotong royong, dan kecintaan terhadap tanah leluhur. Tradisi ini bahkan telah diakui sebagai bagian dari Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) masyarakat Sula.
Pada 2026 ini, konsep kegiatan sedikit berbeda dibandingkan tahun 2019. Selain kategori tercepat, panitia menambahkan Juara Favorit dan Juara Kreatif sebagai bentuk apresiasi terhadap nilai kebersamaan dan kreativitas generasi muda.
Titik nol perjalanan akan dimulai dari gerbang bersejarah Benteng Altein, mengelilingi Pulau Sulabesi sejauh kurang lebih 180 kilometer, dan finis di lokasi yang sama. Setiap regu terdiri dari 10 orang, dengan pos pemberhentian di Desa Malbufa, Kabau Laut (Tahaga Kabau), Fuata, serta Waigoiyofa dan Fat Iba.
Perjalanan ini bukan sekadar fisik. Ia adalah perjalanan batin menyusuri jejak sejarah, menyatukan kembali memori kolektif yang hampir terhapus.
“Kami mohon doa agar kegiatan ini berjalan lancar dan sukses. Ini adalah manifestasi generasi Sula dalam melestarikan adat dan budaya Gabalil Hai Sua di daerah tercinta,” harap Haji Faruk penuh haru.
Panitia juga menyampaikan terima kasih kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang turut mendukung kelancaran kegiatan tersebut.
Di tengah derasnya modernisasi, ketika banyak tradisi perlahan memudar, Gabalil Hai Sua hadir sebagai pengingat bahwa identitas tidak boleh hilang, bahwa budaya adalah jiwa, dan bahwa generasi hari ini masih peduli pada warisan leluhur.
Bagi masyarakat Sula, Mei 2026 bukan hanya tentang perlombaan.
Ia adalah tentang menghidupkan kembali jati diri dan tentang menjaga api tradisi agar tetap menyala.
(RA)



















