banner 728x90
banner 728x90
BeritaBudayaDaerahEkonomi BisnisNasionalOpiniRegionalUncategorized

Segi Tiga Penghalang Pertumbuhan Pariwisata Kepulauan Sula

92
×

Segi Tiga Penghalang Pertumbuhan Pariwisata Kepulauan Sula

Sebarkan artikel ini

Ditulis Oleh: Fahrin Umarama

PotretOne.com,- Pariwisata telah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Pada tahun 2025, sektor ini menyumbang sekitar 4,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Di tingkat daerah, Bali kembali menjadi penyumbang terbesar bagi PDB Provinsi-sebuah bukti bahwa pariwisata, bila dikelola dengan visi dan konsistensi, mampu menggerakkan rantai ekonomi dari hulu ke hilir: transportasi, UMKM, perhotelan, hingga jasa kreatif.

banner 728x90

Contoh ekstrem bahkan dapat kita lihat dari Maldives, sebuah negara kepulauan yang nyaris tidak memiliki sumber daya alam strategis selain laut, pantai, dan biota bawah air. Namun justru dari sektor itulah Maldives tumbuh dan dikenal dunia. Artinya, pariwisata bukan sekadar soal keindahan alam, melainkan tentang bagaimana sebuah daerah mengelaborasi keunggulannya menjadi value yang unik, langka, dan diingat.

Bali tidak hanya menjual pantai. Ia menjual budaya arsitektur rumah, pakaian adat, upacara keagamaan, dan tata ruang yang konsisten. Lombok tidak hanya menawarkan laut biru, tetapi juga Gunung Rinjani dan identitas religius sebagai “Pulau Seribu Masjid”. Pariwisata yang kuat selalu memiliki cerita, ciri, dan diferensiasi.
Di titik inilah Kepulauan Sula menghadapi persoalan mendasar.

Secara geografis, Kepulauan Sula berada dalam sebuah “segi tiga” kawasan pariwisata unggulan Indonesia Timur. Di sebelah barat terdapat Banggai Kepulauan (Sulawesi Tengah), di timur Maluku, dan di utara Halmahera beserta gugusan pulau sekitarnya termasuk Ternate sebagai ibu kota provinsi. Ketiga kawasan ini telah lebih dulu viral, dikenal luas, dan memiliki brand pariwisata yang kuat baik secara nasional maupun internasional.

Sula, dalam konteks ini, tidak hanya bersaing. Ia terjepit.

Secara historis pun, Kepulauan Sula lebih banyak tercatat sebagai wilayah persinggahan: Kesultanan Banggai, jaringan kesultanan di Halmahera, hingga pengaruh Ternate dan Tidore. Warisan sejarah ini belum diolah menjadi narasi wisata yang kuat, berbeda dengan Banda Neira atau Ternate yang berhasil mengemas sejarah kolonial dan kesultanan sebagai daya tarik utama.

Maluku, misalnya, memiliki Pantai Pasir Panjang di Kei dengan pasir sehalus tepung bahkan disebut sebagai pasir terhalus kedua di dunia. Nilai ini mahal karena langka dan sulit ditiru. Banda Neira melangkah lebih jauh, menjadikan sejarah rempah dan kisah pertukaran Pulau Manhattan sebagai narasi kelas dunia. Pariwisata Maluku tidak hanya indah, tetapi berlapis makna.

Halmahera pun demikian. Kedekatannya dengan Kota Ternate menjadikannya sangat mudah diakses. Jika wisatawan tidak puas dengan Danau Tolire atau Pantai Sulamadaha, mereka dapat menyeberang sebentar menuju Halmahera. Di sana tersedia jejak Perang Dunia II, negeri para sultan, Pulau Dodola yang dijuluki “Maldives-nya Indonesia”, hingga gunung-gunung tinggi yang memikat para pendaki.

Banggai Kepulauan di Sulawesi Tengah menawarkan kekuatan lain: wisata bahari dengan kejernihan bawah laut yang memukau, danau Paisu Pok yang sebening kaca, air terjun, hingga lanskap bukit yang fotogenik. Banggai menjadi surga bagi penyelam dan traveler yang mencari pengalaman alam yang “lengkap”.

Ketiga wilayah ini bukan hanya kaya destinasi, tetapi juga unggul dari sisi aksesibilitas dan narasi. Transportasi relatif lancar, pilihan wisata beragam, dan masing-masing memiliki ciri khas yang jelas.

Di tengah kepungan inilah Kepulauan Sula berdiri.

Pantai Waka, Fatkauyon, dan destinasi lain di Sula memang indah: pasir putih, laut bening, pohon kelapa berjajar rapi. Namun keindahan semacam ini bukanlah sesuatu yang eksklusif. Banyak daerah lain di Indonesia Timur memiliki lanskap serupa bahkan dengan nilai tambah yang lebih kuat, baik dari sisi cerita, keunikan, maupun kemudahan akses.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya yang telah mengunjungi 16 provinsi di Indonesia, pariwisata tidak pernah saya nilai hanya dari pantai. Selalu ada pertimbangan lain: air terjun, danau, gunung, sejarah, budaya, tata kota, bahkan dinamika ekonomi masyarakat. Faktor transportasi murah, lancar, dan mudah juga menjadi kunci utama.

Opsi-opsi inilah yang masih minim di Kepulauan Sula.

Destinasi wisata Sula, pada dasarnya, juga dimiliki oleh daerah lain. Namun daerah lain tersebut memiliki value yang lebih: pasir terhalus dunia di Maluku, Pulau Dodola di Morotai, dan Danau Paisu Pok di Banggai. Sula belum menemukan pembeda yang cukup kuat untuk membuat wisatawan berkata, “Saya harus ke sana.”

Maka jika Pemerintah Daerah Kepulauan Sula benar-benar serius menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan, tantangannya sangat berat. Tidak cukup dengan festival seremonial tahunan, baliho, atau slogan promosi. Anggapan bahwa pariwisata bisa tumbuh hanya dengan event adalah sebuah kekeliruan bahkan bisa disebut nonsense.

Yang dibutuhkan adalah kajian mendalam: apa identitas pariwisata Sula, apa yang benar-benar unik dan tidak dimiliki daerah lain, bagaimana membangun aksesibilitas, serta bagaimana melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton. Tanpa arah yang jelas dan kebijakan yang konsisten, Kepulauan Sula akan terus berada di persimpangan indah, tetapi terlewatkan.

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Potretone.com, Sanana,- Kasus dugaan persetubuhan anak di bawah umur di Desa Falabisahaya Kecamatan Mangoli Utara, akhirnya masuk babak baru. Berkas kasusnya suda diserahkan polisi ke Kejaksaan Negeri Kepulauan Sula pada 13 April 2026 dan sekarang masi di periksa apakah suda lengkap (P21) atau belum.Â