banner 728x90
banner 728x90
Opini

Hari Pahlawan. Bangsa Ini Lahir Dari Litirasi

7
×

Hari Pahlawan. Bangsa Ini Lahir Dari Litirasi

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mohtar Umasugi

Sanana,- Setiap kali tanggal 10 November tiba, kita biasanya sibuk menyalakan ulang kisah kepahlawanan melalui upacara, baliho, dan pidato seremonial. Tapi di balik seluruh keramaian itu, saya selalu terpikir hal yang lebih sederhana sekaligus lebih mendasar: bangsa ini lahir dari para pembaca dan penulis. Para pendiri dan perumus negara bukan hanya pejuang di medan tempur, tapi pejuang gagasan yang rela menghabiskan malam panjang dengan membaca, menelaah, dan menulis ulang masa depan.

banner 728x90

Mereka bukan orang-orang yang tiba-tiba berteriak merdeka. Mereka adalah generasi yang tekun menyelami buku-buku besar dunia, mencatat pikiran-pikiran tajam, menyusun argumen, menyandingkan teori dengan realitas Nusantara, lalu merumuskan satu cita-cita bernama Indonesia. Dan dari tangan serta pikiran mereka, lahirlah konstitusi, sistem kenegaraan, pandangan kebangsaan, sampai etos perjuangan yang kita puja-puji hingga hari ini.

Sayangnya, semangat itu makin jauh dari kehidupan publik kita sekarang. Kita hidup di zaman yang lebih cepat, tapi tidak selalu lebih cerdas. Zaman ketika orang terburu-buru berpendapat tanpa merasa perlu membaca, dan merasa cukup dengan potongan narasi yang berterbangan di ruang digital. Zaman ketika kebijakan lahir lebih karena kepentingan jangka pendek daripada kedalaman analisis. Padahal, para pendiri negara justru mengajarkan bahwa sebuah bangsa hanya bisa berdiri tegak jika para pemimpinnya memiliki fondasi literasi yang kuat, etika berpikir, dan keberanian mengambil keputusan berbasis nalar, bukan sekadar selera.

Di titik ini, Hari Pahlawan seharusnya menjadi alarm moral. Sebab tantangan terbesar kita hari ini bukan hanya soal ekonomi, politik atau infrastruktur, tetapi kemunduran cara berpikir dan etika berdiskusi. Ketika ruang publik penuh gaduh tanpa basis data, ketika perdebatan digantikan saling membalas sindiran, ketika kebijakan lebih sering terjebak pada kepentingan kelompok, kita sebenarnya sedang menjauh dari karakter para pendiri bangsa.

Kita lupa bahwa membaca adalah cara menghormati sejarah, dan menulis adalah cara menyelamatkan masa depan. Dua kemampuan ini yang dulu mengantar bangsa ini pada pintu kemerdekaan, dan dua kemampuan ini pula yang hari ini terasa langka di lingkaran elit, birokrasi, bahkan masyarakat umum.

Maka, peringatan Hari Pahlawan seharusnya bukan hanya ritual, tapi refleksi: apakah kita sedang menjadi bangsa pembaca dan penulis seperti para pendiri negeri ini, atau sekadar penonton yang sibuk dengan drama harian?

Kita tidak bisa berharap negeri ini bergerak maju jika para pejabat tidak membaca data, tidak menelaah kebijakan, dan tidak menulis arah pembangunan dengan pemikiran matang. Kita juga tidak bisa berharap masyarakat kritis jika membaca dianggap membosankan, dan menulis dianggap pekerjaan para akademisi semata.

Karena itu, seruan moral kita hari ini sederhana tetapi penting: mari kembali pada tradisi para pendiri negeri ini. Kembalilah membaca agar kita punya pijakan, dan kembalilah menulis agar kita punya arah. Sebab negara yang besar tidak hanya dibangun oleh tangan yang bekerja, tetapi juga oleh pikiran yang jernih dan pena yang berani.

Dan barangkali, di tengah ingar-bingar dunia yang semakin cepat ini, cara paling jujur menghormati para pahlawan adalah dengan memastikan bahwa bangsa ini tetap menjadi bangsa yang berpikir. Bangsa yang tidak lupa bahwa kemerdekaan lahir dari kalimat-kalimat panjang, diskusi alot, serta keberanian merumuskan nasib bersama.

Para pendiri negara mengajarkan satu hal penting: _sebelum menjadi pahlawan, jadilah pembaca yang tekun dan penulis yang jujur_ . Karena di situlah peradaban berdiri.

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *