Potretone.com, Sanana,- Gelombang protes kembali mengguncang Desa Soamole, Kecamatan Sulabesi Tengah. Warga yang tergabung dalam Barisan Rakyat Soamole (BRS) menggelar aksi pemboikotan dan penyegelan Kantor Kepala Desa Soamole, Rabu (25/2/2026).
Aksi ini dipicu kekecewaan mendalam terhadap buruknya tata kelola birokrasi di bawah kepemimpinan Kepala Desa Salem Umagapit. Warga menilai pemerintahan desa lumpuh total: aparat jarang berkantor, pelayanan administrasi tidak berjalan, dan disiplin internal dinilai hancur.
“Pemerintah Desa Soamole melalui kepala desa sudah kami ingatkan berulang kali. Aparat yang malas bahkan tidak mampu bekerja seharusnya diberhentikan demi peningkatan pelayanan. Tapi itu tidak dilakukan dengan alasan malu hati,” tegas Masri Soamole, salah satu orator aksi, dalam orasinya yang disambut sorakan massa.
Menurut warga, lemahnya kepemimpinan membuat sejumlah aparat bertindak semaunya tanpa kontrol. Kondisi itu disebut telah berlangsung lama dan tak kunjung dibenahi, meski kritik dan teguran sudah berulang kali disampaikan.
Koordinator Barisan Rakyat Soamole, Ilham Usia, menuntut evaluasi total dan langkah tegas dari kepala desa. Ia meminta dilakukan asesmen terbuka dan objektif bagi warga yang berminat mengisi jabatan tertentu di pemerintahan desa.
“Kami minta kepala desa segera evaluasi secara kritis dan tegas. Aparat yang tidak disiplin harus diberhentikan, lalu dibuat asesmen dengan kriteria jelas bagi warga yang ingin mengisi jabatan kosong,” kata Ilham.
Aksi yang mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian itu berlangsung di Kantor BPD dan Kantor Kepala Desa Soamole. Sempat terjadi perdebatan panjang antara massa dan aparat keamanan terkait pemboikotan, namun warga tetap bersikukuh hingga kantor desa akhirnya berhasil diboikot.
Di tengah tekanan massa, Kepala Desa Salem Umagapit menyatakan akan segera melakukan pembenahan internal.
“Saya akan segera menggelar rapat dengan aparat desa dan memenuhi tuntutan massa aksi,” ujarnya singkat.
Namun, warga memberi peringatan keras. Jika pembenahan kembali gagal dilakukan, mereka mendesak Bupati Kepulauan Sula untuk turun tangan mengevaluasi kinerja Kepala Desa Soamole.
Aksi ini menjadi sinyal keras bahwa krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah desa telah mencapai titik nadir. Warga menegaskan, pelayanan publik bukan ruang kompromi dan perubahan harus segera dibuktikan, bukan sekadar dijanjikan.



















