Sorong Selatan, Potretone.com,- Kemarin pagi suara hujan tak mampu meredam semangat ratusan pemuda dan masyarakat adat di Kabupaten Sorong Selatan. Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, mereka turun ke jalan menyuarakan satu tekad: menolak masuknya perkebunan sawit di tanah adat. Rabu, (29/10).
Aksi damai ini digelar oleh Aliansi Pemuda Peduli Lingkungan Sorong Selatan bersama perwakilan masyarakat adat dari suku Gemna, Afsia, Mlakya, Nakna, dan Yaben. Massa memulai long march dari pertigaan Pasar Obor, Kampung Wernas, menuju Kantor Dinas Pertanahan Kabupaten Sorong Selatan.
Dengan penuh semangat, mereka membawa spanduk dan poster dengan tulisan-tulisan penuh makna: “Hutan Ini Milik Kami, Bukan Investor”, “Hutan Adalah Mama”, dan “Papua Bukan Tanah Kosong”.
Meski di tengah guyuran hujan, orasi terus bergema. Para orator menegaskan penolakan terhadap rencana pemerintah yang disebut akan memberikan izin Hak Guna Usaha (HGU) kepada PT Anugrah Sakti Internusa (ASI), perusahaan sawit yang berencana beroperasi di Distrik Konda dan Distrik Teminabuan.
“Kami tidak butuh sawit! Kami butuh hutan kami tetap hidup. Tanah ini bukan milik investor, ini tanah leluhur kami,” seru salah satu pemuda dengan lantang.
Aliansi dan masyarakat adat menilai, kehadiran perkebunan sawit akan mengancam keberlangsungan lingkungan, budaya, dan kehidupan masyarakat adat yang bergantung pada hutan. Mereka mendesak Dinas Pertanahan Sorong Selatan untuk tidak menerbitkan izin apa pun bagi PT ASI.
“Sorong Selatan bukan tanah kosong yang bisa dijual untuk kepentingan perusahaan. Kami pemilik sah tanah ini,” tegas seorang tokoh adat.
Aksi yang berlangsung damai ini mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan. Meski sederhana, momentum aksi ini menjadi simbol kuat perlawanan terhadap eksploitasi alam, sekaligus refleksi makna Sumpah Pemuda di Tanah Papua bersatu, berdaulat, dan menjaga bumi warisan leluhur. (Moy-red)



















