BeritaDaerahMaluku UtaraNasionalOtomotifRegionalUncategorized

SPPG Sulabesi Barat Klarifikasi Menu Pisang Rebus MBG, Sebut Upaya Dukung Pangan Lokal dan Petani Sula

158
×

SPPG Sulabesi Barat Klarifikasi Menu Pisang Rebus MBG, Sebut Upaya Dukung Pangan Lokal dan Petani Sula

Sebarkan artikel ini

Sanana,- Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Sulabesi Barat, Gunawan Sibela, memberikan penjelasan terkait video yang memperlihatkan sejumlah siswa SMP Negeri Kabau membuang pisang rebus yang merupakan bagian dari menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Gunawan, penggunaan pisang sebagai salah satu sumber karbohidrat dalam menu MBG bukan dilakukan tanpa pertimbangan. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari arahan pemanfaatan pangan lokal yang menjadi salah satu prinsip dalam pelaksanaan program MBG di daerah.

banner 728x90

“Penggunaan pisang dalam menu MBG merupakan bentuk pemanfaatan pangan lokal yang tersedia di daerah. Selain memenuhi kebutuhan gizi siswa, kebijakan ini juga bertujuan mendorong pemberdayaan petani lokal agar hasil pertanian masyarakat memiliki nilai manfaat yang lebih luas,” kata Gunawan saat dikonfirmasi, minggu (7/6/2026).

Ia menjelaskan, pisang memiliki kandungan karbohidrat yang dapat menjadi alternatif sumber energi selain nasi. Karena itu, bahan pangan lokal tersebut dimanfaatkan sebagai bagian dari variasi menu yang disusun oleh dapur MBG.

Meski demikian, Gunawan menegaskan bahwa menu pisang rebus yang menjadi sorotan dalam video tersebut bukanlah menu yang disajikan setiap hari kepada para siswa.

“Perlu kami luruskan bahwa menu pisang rebus itu baru pertama kali disajikan sejak dapur MBG beroperasi di wilayah Sulabesi Barat. Jadi tidak benar jika disebut bahwa siswa setiap hari menerima menu pisang rebus,” ujarnya.

Menurut dia, pihaknya memahami adanya perbedaan selera makan di kalangan peserta didik. Namun demikian, setiap menu yang disiapkan tetap mengacu pada kebutuhan gizi serta ketersediaan bahan pangan yang ada di daerah.

Gunawan juga membantah anggapan bahwa penggunaan pisang dilakukan untuk menekan biaya atau mengejar keuntungan. Ia menegaskan, penyusunan menu didasarkan pada prinsip kecukupan gizi, keberagaman pangan, dan pemanfaatan potensi lokal.

“Kami tidak semata-mata mencari keuntungan. Yang menjadi pertimbangan utama adalah bagaimana kebutuhan gizi anak-anak tetap terpenuhi, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi petani lokal melalui pemanfaatan hasil pertanian daerah,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyatakan pihak SPPG terbuka terhadap berbagai masukan dari siswa, orang tua, maupun masyarakat. Evaluasi terhadap menu akan terus dilakukan guna meningkatkan kualitas pelayanan dan memastikan makanan yang disajikan dapat diterima dengan baik oleh para penerima manfaat.

“Kritik dan masukan tentu menjadi bahan evaluasi bagi kami. Program ini tidak hanya bertujuan menyediakan makanan bergizi, tetapi juga memastikan makanan tersebut dikonsumsi dengan baik oleh siswa sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan,” ujar Gunawan.

Sebelumnya, video sejumlah siswa SMP Negeri Kabau membuang pisang rebus yang merupakan menu MBG beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, beberapa siswa mengaku bosan mengonsumsi pisang karena makanan serupa juga sering mereka temui di rumah.

Peristiwa itu kemudian memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat terkait variasi menu dalam Program Makan Bergizi Gratis. Namun, pihak SPPG menegaskan bahwa menu pisang rebus yang dipersoalkan merupakan menu perdana yang disajikan dan bagian dari upaya pemanfaatan pangan lokal untuk mendukung ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Kepulauan Sula.

(Ris)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90