banner 728x90
banner 728x90
BeritaDaerahMaluku UtaraNasionalOtomotifRegionalUncategorized

Tangis Pecah di Garis Akhir: Digendong Rekan, Dwi Tiba Lemas di Pos Jaga Sula, Dan Tidak Ada yang Ditinggalkan

320
×

Tangis Pecah di Garis Akhir: Digendong Rekan, Dwi Tiba Lemas di Pos Jaga Sula, Dan Tidak Ada yang Ditinggalkan

Sebarkan artikel ini

Potretone.com, Sanana,- Di tengah perjalanan panjang yang menguras tenaga dan emosi, tersaji sebuah pemandangan yang begitu menggetarkan hati peserta Gabalil Hai Sua (GHS) 2026 dari Andursa, Desa Waibau, Kecamatan Sanana.

Langkah yang awalnya tegap, kini berubah pelan-pelan jadi goyah. Dwi Arya Kaunar, salah satu anggota tim, sudah tidak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri setelah dihantam kelelahan berat sejak perbatasan Desa Bega menuju Desa Fatiba. Tenaganya habis, kakinya seakan tidak mau diajak jalan lagi yang benar-benar sudah di titik paling lelah.

banner 728x90

Di saat kondisi seperti itu, kebersamaan mereka benar-benar diuji. Tanpa banyak bicara, empat rekannya langsung ambil keputusan untuk memikul Dwi harus tetap dibawa sampai akhir. Mereka saling bergatian memikulnya pakai kain yang di ikat dengan dua batang kayu, berjalan perlahan menembus sisa perjalanan sekitar 3 sampai 4 kilometer. Nafas hampir habis, bahu pegal bukan main, tapi tidak ada satu pun yang mengeluh yang penting satu: “torang harus sampai sama-sama.”

Dan saat tiba di Pos Jaga Sula, Desa Fatiba, Selasa (5/5/2026), suasana langsung berubah jadi haru yang sulit dijelaskan. Warga dan panitia yang sudah menunggu seakan terdiam melihat mereka datang dalam kondisi begitu. Empat orang berjalan dengan langka kaki yang bergetar sambil memikul temannya pemandangan yang bikin dada sesak.

Beberapa warga terlihat langsung meneteskan air mata. Ada yang menutup wajah, ada juga yang hanya bisa diam, seperti tidak percaya melihat kekompakan sekuat itu. Ini bukan lagi sekadar untuk mau mencari juara, perjalanan ini benar-benar tentang rasa dan tentang hati kebersamaan.

Dwi kemudian diturunkan perlahan. Tubuhnya lemas, tidak banyak kata yang bisa keluar. Sementara teman-temannya berdiri di sampingnya, masi merasa cape, mata merah, dan terasa haru. Tidak ada teriakan kemenangan, yang ada cuma suasana sunyi yang penuh makna.

Koordinator tim, Nur Fauji Buabes, dengan suara yang tertahan bilang, “Dia sudah tidak bisa jalan sama sekali, tapi torang seng mungkin tinggal dia. Bagaimanapun, harus sampai sama-sama,”ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan La Galang, salah satu yang ikut memikul Dwi.

“Dia so terlalu capek jadi torang pikul. Yang penting, jangan ada yang tertinggal,” ujarnya singkat, tapi dalam sekali artinya.

Di balik peluh, rasa sakit di bahu, dan langkah yang hampir menyerah, kisah ini jadi pengingat yang dalam: hidup ini bukan soal siapa yang paling cepat sampai tujuan, tapi siapa yang tetap setia ada di samping kita. Bahkan saat kita sudah tidak kuat berjalan lagi.

(Ris,)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Potretone.com, Sanana,- Penasehat Gabalil Hai Sua (GHS) bersama panitia melakukan kunjungan ke Desa Kabau Pantai, Kecamatan Sulabesi Barat, Minggu (3/5/2026). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka silaturahmi sekaligus meninjau Musholah Daruttaqwa yang berada di desa tersebut.