Potretone.com, Sanana,- Pemberitaan media online PotretOne.cm tentang sosok Adnan Husein yang mengangkat kisah “ibu yang tidak pernah diam” mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Narasi tersebut dinilai bukan sekadar cerita personal, tetapi mengandung pesan kultural yang kuat bagi masyarakat Kepulauan Sula, khususnya mereka yang berada di perantauan.
Akademisi STAI Babussalam Sula Maluku Utara yang juga Kordinator Presidium MD KAHMI Kepulauan Sula, Dr. Mohtar Umasugi, S.Ag., M.Pd.I, menilai bahwa cerita yang diangkat Adnan Husein merupakan simbol panggilan moral bagi seluruh anak negeri.
Menurutnya, “ibu” dalam narasi tersebut dapat dimaknai sebagai representasi tanah kelahiran yang terus memanggil dan mengingatkan akan tanggung jawab sejarah.
“Ini bukan sekadar cerita biasa. Ini adalah metafora tentang negeri yang tidak pernah berhenti berharap kepada anak-anaknya. Tanah kelahiran kita seakan terus ‘berbicara’ di tengah keterbatasan dan ketertinggalan yang masih kita hadapi,” ujar Dr. Mohtar saat dimintai tanggapan, Rabu (29/4/2026).
Lebih lanjut, ia mengaitkan pesan tersebut dengan momentum kegiatan Gabalil Hai Sua yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat Sula.
“Gabalil Hai Sua bukan hanya seremoni budaya. Ini adalah ruang refleksi dan konsolidasi identitas. Ia menjadi jembatan antara masyarakat yang berada di kampung halaman dan diaspora Sula di berbagai daerah,” jelasnya.
Dr. Mohtar juga menegaskan bahwa ajakan “pulang” yang tersirat dalam narasi tersebut tidak boleh dimaknai secara sempit. Ia menekankan pentingnya kontribusi nyata dari masyarakat perantauan dalam pembangunan daerah.
Pulang tidak harus selalu dimaknai secara fisik. Pulang bisa berarti menghadirkan gagasan, investasi, jaringan, bahkan keberpihakan dalam setiap langkah yang kita ambil untuk kemajuan daerah,” tambahnya.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengubah kesadaran emosional menjadi gerakan konkret yang berdampak langsung pada pembangunan ekonomi dan sosial di Kepulauan Sula.
Ia berharap, pesan yang disampaikan melalui cerita Adnan Husen dapat menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk kembali terlibat dalam membangun daerahnya.
“Kalau tidak kita, siapa lagi? Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi? Masa depan Kepulauan Sula ada di tangan seluruh anak negerinya,” tegas Dr. Mohtar.
Dengan demikian, narasi yang diangkat Adnan Husen melalui media tidak hanya menjadi refleksi kultural, tetapi juga dorongan moral untuk memperkuat peran kolektif masyarakat dalam menentukan arah masa depan Kepulauan Sula.
(Bang Mo)



















