banner 728x90
banner 728x90
BeritaDaerahMaluku UtaraNasionalOtomotifRegionalUncategorized

Adnan Husein: Cerita Ibu yang Tidak Pernah Diam, Kini Memanggil Orang Sula untuk Pulang

38
×

Adnan Husein: Cerita Ibu yang Tidak Pernah Diam, Kini Memanggil Orang Sula untuk Pulang

Sebarkan artikel ini

Potretone.com, Sanana,- Pagi tadi suasana di Bandara Emalamo Sanana, Desa Wai Ipa, tampak berbeda dari biasanya. Aktivitas keluar-masuk orang seperti sedikit melambat, seakan ada ruang khusus yang terbuka ketika sosok Adnan Husein (57) tiba dan melangkah menuju Sekretariat Panitia Gabalil Hai Sua (GHS) 2026.

Pria yang akrab disapa Ko Nan itu datang dengan sikap sederhana, santun, dan rendah hati. Tidak ada kesan berjarak. Bahkan saat diwawancarai sejumlah wartawan di sekretariat panitia, ia berbicara tenang, dengan bahasa yang ringan seperti orang kampung yang sedang bercerita, tapi maknanya dalam dan pelan-pelan menusuk hati.

banner 728x90

Di balik kesederhanaan itu, tersimpan cerita yang menyentuh tentang kampung halaman yang tidak selalu dikenang dari perjalanan jauh, tetapi dari suara paling dekat, “suara seorang ibu”.

Adnan Husein mengaku, kecintaannya pada Kabupaten Kepulauan Sula bukan karena lama tinggal di sana, tetapi karena cerita yang ia dengar sejak kecil, terus diulang tanpa berhenti di rumah.

“Umi saya itu mau tidur cerita Sula, bangun juga cerita Sula. Jadi dari kecil saya dengar terus, sampai Sula itu seperti hidup di rumah saja,” kenangnya, Rabu (29/4/2026).

Bagi ibunya, Kepulaua Sula bukan sekadar tempat di peta. Bukan cuma nama daerah. Tapi tanah yang hidup dalam ingatan tentang desa, adat, laut, dan ritual leluhur yang dulu dijaga dengan kuat oleh masyarakat.

Dari cerita itu, pelan-pelan tumbuh rasa dalam diri Adnan. Bukan sekadar tahu, tapi merasa dekat. Bukan hanya dengar, tapi seperti dipanggil pelan-pelan dari jauh untuk kembali.

Dan dari situlah, lahir dorongan untuk menghidupkan kembali sebuah tradisi lama bernama Gabalil Hai Sua.

Ritual lama yang sempat hilang, kini seperti dipanggil pulang
Gabalil Hai Sua bukan sekadar acara budaya biasa. Ini adalah ritual adat orang Sula dulu sebelum merantau. Semacam pamit, tapi bukan pamit biasa lebih seperti pesan terakhir dari tanah leluhur, “jangan lupa pulang.”

Tapi setelah 2019, kegiatan ini berhenti. Diam. Hilang dari ruang publik. Hampir enam tahun tidak terdengar lagi, seperti sesuatu yang dulu hidup tapi pelan-pelan dilupakan. Sampai akhirnya tahun 2026 ini, tradisi itu dihidupkan kembali.

Adnan Husein ikut mengambil peran sebagai penasehat sekaligus promotor kegiatan. Ia tidak banyak bicara dengan gaya besar. Lebih seperti orang yang pelan-pelan takut kehilangan sesuatu yang sangat penting.

“Ini seperti panggilan saja. apa yang umi saya cerita dulu, sekarang saya rasa harus dihidupkan lagi,” ujarnya pelan.

Bagi Adnan, Gabalil Hai Sua bukan cuma acara jalan adat atau seremoni budaya. Bukan juga sekadar orang kumpul lalu selesai.

Lebih dalam dari itu. Ini soal orang-orang yang sudah lama pergi, tapi diam-diam masih punya rasa ingin pulang.

“Sua Wel Bihu itu artinya Sula itu panggilan pulang. Ada keluarga saya juga yang sudah puluhan tahun tidak balik, tapi karena ini, mereka jadi mau pulang,” katanya.

Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan getir. Karena ternyata banyak orang bukan tidak mau pulang. tapi sudah terlalu lama tidak ada yang memanggil.

Warisan yang hampir hilang, tapi masih sempat diselamatkan
Di tengah zaman yang serba cepat ini, banyak tradisi pelan-pelan hilang. Bukan karena tidak penting, tapi karena tidak lagi ada yang menjaga.

Apa yang dilakukan Adnan mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Tapi bagi yang paham akar budaya, ini seperti menahan sesuatu yang hampir putus.

Ia percaya, cerita-cerita lama dari ibunya bukan sekadar kenangan. Itu adalah warisan. Itu adalah identitas. Itu adalah rumah yang tidak boleh hilang.
Dan semua itu berawal dari seorang ibu yang tidak pernah berhenti bercerita tentang Sula siang, malam, tanpa jeda.

Sampai akhirnya, cerita itu bukan lagi sekadar cerita, tapi berubah menjadi panggilan yang pelan-pelan mengajak orang untuk pulang kampung.

(Ris)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Potretone.com, Sanana,- Angin laut di Pelabuhan Sanana siang itu berembus pelan, seolah ikut membawa kenangan-kenangan lama yang hampir terlupakan. Di antara langkah kaki para penumpang yang turun dari kapal KM. Permata Obi pada 28 April 2026, ada sekelompok orang tua yang berjalan perlahan bukan semata karena usia, tetapi karena mereka sedang memikul sesuatu yang tidak sisa-sisa budaya yang kian menipis dimakan zaman.

Berita

Potretone.com, Sanana,- Suasana hangat yang selama ini menyelimuti kebersamaan Panitia Gabalil Hai Sua (GHS) 2026 mendadak berubah haru. Sebuah video yang beredar di grup internal panitia memperlihatkan kondisi salah satu anggota mereka yang kini tengah menjalani perawatan di RSUD Sanana. Senin, (27/4/2026).