banner 728x90
banner 728x90
BeritaDaerahMaluku UtaraNasionalOpiniOtomotifRegionalUncategorized

Saat Waktu Hampir Habis: Para Sesepuh Berjuang Menyelamatkan Tradisi

16
×

Saat Waktu Hampir Habis: Para Sesepuh Berjuang Menyelamatkan Tradisi

Sebarkan artikel ini

Potretone.com, Sanana,- Angin laut di Pelabuhan Sanana siang itu berembus pelan, seolah ikut membawa kenangan-kenangan lama yang hampir terlupakan. Di antara langkah kaki para penumpang yang turun dari kapal KM. Permata Obi pada 28 April 2026, ada sekelompok orang tua yang berjalan perlahan bukan semata karena usia, tetapi karena mereka sedang memikul sesuatu yang tidak sisa-sisa budaya yang kian menipis dimakan zaman.

Mereka adalah peserta Gabalil Hai Sua dari Majelis Taklim Hubul Watan Sua Basanohi Kota Ternate. Wajah-wajah renta itu menyimpan cerita panjang tentang masa ketika tradisi bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari hidup yang dijalani dengan sepenuh hati.

banner 728x90

Setibanya di pelabuhan sanana, mereka disambut hangat oleh Majelis Taklim Desa Fatcei degan tradisi Baka Yab Hai. Lantunan adat itu terdengar lembut, namun justru menyentuh sisi paling dalam.

Bagi para sesepuh, itu bukan sekadar penyambutan melainkan seperti panggilan dari masa lalu yang takut dilupakan. Beberapa di antara mereka menunduk ada yang diam-diam, mungkin karena mereka sadar, momen seperti ini tidak akan selalu ada.

Sekretaris Majelis Taklim Hubul Watan Sua Basanohi sekaligus Ketua Panitia Rombongan, Maimuna Buamona, S.Pd, berdiri di tengah kerumunan dengan suara yang tertahan. Wawancara yang seharusnya menjadi rutinitas berubah menjadi pengakuan yang menggugah hati.

“Kami datang karena kami tidak ingin ini jadi yang terakhir,”ujarnya lirih, Rabu (29/4/2026).

Kalimat itu menggantung lama, seakan berat untuk dilepaskan. Ia memandang para sesepuh yang datang bersamanya mereka yang sebagian besar telah berusia di atas 60 tahun. Langkah mereka tidak lagi kuat, namun tekad mereka tetap utuh.

“Kami takut suatu saat nanti, ketika kami sudah tiada, tidak ada lagi yang tahu bagaimana menjalankan tradisi ini,” lanjutnya, dengan nada rendah.

Menurutnya, Rencana awal sekitar 40 orang akan ikut serta. Namun kenyataan tidak sepenuhnya berpihak. Ada yang sakit, ada yang harus tinggal menjaga keluarga, dan ada pula yang hanya bisa menitipkan doa karena tubuhnya tidak lagi sanggup menempuh perjalanan.

“Yang hadir hanya 21 orang,”ucapnya.

Mereka yang hadir mencoba menjaga sesuatu yang dulu dihidupkan oleh banyak generasi. Di tengah keramaian penyambutan, terselip kesunyian yang sulit dijelaskan kesunyian tentang waktu yang terus berjalan, tentang usia yang tidak bisa ditahan, dan tentang tradisi yang perlahan ditinggalkan.

“Kami hanya ingin, sebelum kami pergi, ada sesuatu yang bisa kami tinggalkan,”ucapnya.

Menurut Maimuna, Bukan kekayaan, Bukan kebanggaan semata tetapi jejak tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan nilai apa yang pernah mereka jaga dengan sepenuh jiwa.

Gabalil Hai Sua 2026 yang akan digelar pada 2 Mei nanti, bagi mereka bukan sekadar perayaan budaya. Ini adalah usaha terakhir untuk menjaga api kecil agar tidak padam.

Bahkan mereka tidak tahu apakah tahun depan masih bisa berkumpul seperti ini. Tidak tahu apakah akan ada generasi yang benar-benar meneruskan. Tidak tahu apakah semua ini akan tetap hidup atau hanya menjadi cerita. Yang mereka tahu hanya satu mereka tidak ingin tradisi ini hilang dalam diam.

“Kami tidak minta banyak, Cukup jangan biarkan kami jadi generasi terakhir yang mengingat semua ini.” ujar Maimuna

Di Pelabuhan Sanana, hari itu, tidak ada jawaban. Hanya angin laut yang terus berembus membawa harapan yang terasa semakin rapuh. (Ris)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Potretone.com, Sanana,- Suasana hangat yang selama ini menyelimuti kebersamaan Panitia Gabalil Hai Sua (GHS) 2026 mendadak berubah haru. Sebuah video yang beredar di grup internal panitia memperlihatkan kondisi salah satu anggota mereka yang kini tengah menjalani perawatan di RSUD Sanana. Senin, (27/4/2026).