banner 728x90
banner 728x90
BeritaDaerahMaluku UtaraNasionalOtomotifRegionalUncategorized

Halut Berkabung: Kepergian Putra Terbaik yang Membentuk Arah Daerah Ini

170
×

Halut Berkabung: Kepergian Putra Terbaik yang Membentuk Arah Daerah Ini

Sebarkan artikel ini

Potretone.com, Halut,- Tepat pada Jumat pagi, 5 Desember 2025, langit Halmahera Utara seolah enggan bersinar. Hujan rintik jatuh pelan, seakan ikut merasakan duka yang baru saja menyelimuti seluruh daerah.

Tepat pukul 10.22 WIT, kabar memilukan tersiar dari RSUD Tobelo: Ir. Hein Namotemo, mantan Bupati Halmahera Utara dua periode, tokoh adat yang dihormati, sekaligus salah satu putra terbaik daerah, telah menghembuskan napas terakhir.

banner 728x90

Berita itu menyebar cepat, menembus batas kampung dan kota, dari bibir pantai Tobelo hingga perbukitan Galela. Dalam hitungan menit, Halmahera Utara berubah menjadi ruang duka yang besar. Warga saling mengabarkan dengan suara bergetar, banyak yang terdiam lama, ada pula yang langsung tersungkur menangis seolah kehilangan anggota keluarga mereka sendiri.

Karena bagi masyarakat Halmahera Utara, Hein Namotemo bukan sekadar nama. Ia adalah pilar, fondasi, dan cahaya yang pernah memandu daerah ini melewati masa-masa paling menentukan.

Ketika Halmahera Utara baru saja mekar, kala banyak yang ragu, bimbang, dan bertanya tentang masa depan, di situlah sosok Hein Namotemo hadir. Menjabat sebagai bupati dalam dua periode berturut-turut pada 2005-2010 dan 2010-2015. Ia mengambil alih tugas berat membangun daerah yang saat itu masih seperti rumah tanpa dinding dan atap.

Namun ia tidak hanya membangun dengan rencana dan dokumen. Ia membangun dengan kaki yang menginjak tanah, dengan mata yang melihat langsung air mata dan harapan rakyat, dengan hati yang sepenuhnya dipersembahkan untuk Halmahera Utara.

Warga desa-desa terpencil mengingat bagaimana ia datang menembus hujan dan jalan tanah, duduk di balai-balai sederhana, mendengar keluh kesah warga, dan berkata, “Beta akan kembali, dan beta akan bawa perubahan.”

Dan benar ia kembali. Berkali-kali. Dengan proyek pembangunan jalan, jembatan, sekolah, puskesmas, hingga sistem pemerintahan yang lebih tertata.

Ia tidak menunggu laporan. Ia melihat sendiri. Ia tidak sekadar memimpin. Ia berada di garis depan.

Sebelum menjadi bupati, perjalanan kariernya panjang dan semuanya berkisar pada satu hal: pengabdian.

1. Kepala Seksi Pembangunan Dunia Usaha, Bappeda Tk II Maluku Utara (1990–1992)

2. Kepala Bidang Ekonomi, Bappeda Tk II Maluku Utara (1998–1999)

3. Bupati Halmahera Utara (2005–2010)

4. Bupati Halmahera Utara (2010–2015)

Puluhan tahun ia habiskan untuk memahami denyut nadi masyarakat, mempelajari apa yang harus dibenahi, memperjuangkan yang seharusnya diperjuangkan. Tidak heran jika masyarakat selalu melihatnya bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai pelindung, pembimbing, orang tua.

Sebagai Ketua Adat Nusantara Indonesia, ia bukan hanya bicara tentang budaya ia menjaganya. Ia merawat nilai-nilai kearifan lokal seperti merawat pusaka keluarga. Ia tahu bahwa daerah tanpa adat adalah tubuh tanpa jiwa, dan karena itu ia selalu berada di tengah-tengah masyarakat, memastikan setiap perbedaan suku dan tradisi disatukan oleh dialog, hormat, dan persaudaraan.

Banyak yang menyebutnya sebagai pahlawan adat, seseorang yang membuat generasi muda kembali bangga menyebut dirinya orang Maluku Utara.

Sejak kabar kepergiannya tersebar, RSUD Tobelo dipenuhi lautan manusia. Ada yang datang dari Tobelo, dari Galela, dari Loloda, bahkan dari desa-desa yang hanya bisa dijangkau dengan perjalanan berjam-jam. Semuanya datang dengan langkah berat, menahan tangis yang kadang pecah begitu melihat ke arah ruang persemayaman.

Seorang ibu tua dari Tolonuo meremas ujung kainnya sambil berkata pelan,
“Beliau yang pernah datang ke kampung kami waktu hujan besar. Beta ingat… beliau bilang tidak ada desa yang jauh untuk seorang pemimpin. Ah… apa ada orang seperti dia lagi?”

Seorang pemuda yang kini bekerja sebagai guru bercerita sambil sesenggukan, “Beta sekolah karena beasiswa yang dia buat. Tanpa dia, mungkin beta cuma kerja serabutan. Bagaimana beta tidak menangis?”

Dan di setiap kelompok warga yang berdiri menunduk, tampak kesedihan yang sama: “Halmahera Utara kehilangan ayahnya”.

Hingga detik ini, pihak keluarga dan pemerintah daerah belum mengumumkan lokasi pemakaman resmi. Namun gelombang masyarakat yang datang tidak kunjung reda. Mereka menunggu, bukan hanya untuk memberi penghormatan terakhir, tetapi untuk melepas seseorang yang hidupnya telah menjadi bagian dari perjalanan daerah ini.

Di wajah-wajah rakyat, tampak jelas: ini bukan sekadar duka.
Ini adalah kehilangan yang merobek ingatan kolektif.

Tapi jalan yang ia bangun tetap ada.
Nilai-nilai yang ia jaga tetap hidup.
Dan cinta masyarakat untuknya akan terus mengalir, sepanjang Halmahera Utara masih bernama Halmahera Utara.

Hari ini, sebuah babak ditutup.
Seorang putra terbaik kembali ke pangkuan keabadian.

Namun jejaknya oh, jejak itu akan selalu ada, menguatkan langkah setiap anak daerah yang melangkah menuju masa depan.

 

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Potretone.com, Sanana,- Kasus dugaan persetubuhan anak di bawah umur di Desa Falabisahaya Kecamatan Mangoli Utara, akhirnya masuk babak baru. Berkas kasusnya suda diserahkan polisi ke Kejaksaan Negeri Kepulauan Sula pada 13 April 2026 dan sekarang masi di periksa apakah suda lengkap (P21) atau belum. 

Berita

Potretine.com, Sanana,- Proyek pembangunan tower di Desa Buya, Kecamatan Mangoli Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, kini disorot tajam oleh Panitia Khusus (Pansus) DPRD setempat. Proyek bernilai lebih dari Rp3 miliar itu diduga kuat tidak menjalankan prinsip transparansi setelah ditemukan tidak adanya papan informasi proyek di lokasi pekerjaan. Selasa, (14/4/2026).