
PROSA,- Selamat ulang tahun, Lifa. Moga di Ultahmu kali ini kamu lebih dewasa, lebih pasti visi hidupmu, lebih tegas sikapmu, lebih kritis pandanganmu dan lebih bijaksana tindakanmu.
Ini ultah mu yang ke 26 tahun. Di 326 tahun yang lalu, leluhurmu jelas berjuang. Ia bergerak seperti heningannya selat Capalulu, keberaniannya bak Juanga di pesisir Seram Timur, gemuruh pidatonya laksana erupsi Kie Besi, pengorganisasiannya serapi Laur di pantai Baleha dan Patani, etikanya seelok bunga pala dari Banda, dan perangainya seharum cengkih di bumi Kulaba.
Keringat perempuan Maluku itu bau kenari dan juga pucuk kayuh putih dari Wai Putih. Kebayanya lembut, bahannya dari Run dan Moti. Ditenun di Kaki Boki Maruru dengan rindu yang membiru.
Membakar sagu di tungku Jailolo, mendendang Lalayon hingga ke Kailolo. Tifa berbunyi dan Gambus bernyanyi. Menari dari Wai Mua sampai di Bula. Totobuang di Negri Lima, mendendang Tide-tide di Lima Negri.
Lifa, tiuplah lilinmu sekencang armada laut Baginda Nuku, tabah dan tegarlah seperti Leikawa diatas puncak Kapahaha. Berkhidmatlah seperti Baabullah di pesisir Larantuka dan Kastela. Dan, truslah bershalawat kepada baginda Al-Musthafa Muhammad Bin Abdullah.



















