banner 728x90
banner 728x90
BeritaDaerahMaluku UtaraNasionalPendidikan

Jejak 14 Buku dan Suara Alumni: Sebuah Kisah dari Satu Dekade UNHENA

95
×

Jejak 14 Buku dan Suara Alumni: Sebuah Kisah dari Satu Dekade UNHENA

Sebarkan artikel ini

Potretone.com, Halut,- Pada perayaan satu dekade Universitas Halmahera Utara (UNHENA), kampus tampak berbeda dari biasanya. Di lorong-lorong yang biasanya dipenuhi langkah mahasiswa, hari itu mengalir suasana haru, nostalgia, dan kebanggaan.

Tidak hanya karena rangkaian wisuda dan peluncuran sejumlah buku ilmiah, tetapi karena berkumpulnya para alumni yang kembali membawa cerita perjalanan masing-masing cerita yang berakar dari ruang-ruang kuliah UNHENA.

banner 728x90

Di antara para alumni itu, hadir Apriceni Gagali, SH., M.Pd. Ia berdiri menyaksikan betapa kampus yang dulu membentuknya kini menorehkan sejarah baru. Namun ini bukan sekadar momen perayaan; baginya, ada sesuatu yang lebih dalam. Suatu penghargaan yang ingin ia sampaikan kepada sosok yang pernah membimbingnya: Dr. Jarot Ismoyo, SH., MH.

Tahun ini, Dr. Jarot mengejutkan banyak pihak dengan menerbitkan 14 buku hukum sekaligus, sebuah pencapaian yang sulit ditemui dalam dunia akademik. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya angka. Namun bagi Apriceni, itu adalah bukti dedikasi panjang seorang pendidik.

“Mampu menerbitkan 14 buku hukum dalam satu momentum bukan sekadar prestasi akademik. Itu adalah karya peradaban. Saya bangga sebagai alumni yang pernah dibimbing beliau,” ujar Apriceni, mengenang masa-masa ketika ia duduk di bangku kuliah mendengarkan penjelasan dosennya tentang etika, hukum, dan integritas.

Buku-buku itu kini menjadi rujukan bagi banyak alumni yang telah terjun ke berbagai bidang: pemerintahan, advokasi, lembaga publik, hingga ruang-ruang pendidikan. Setiap halaman seakan menghadirkan kembali suara dosen mereka tegas, rinci, namun selalu relevan dengan persoalan nyata masyarakat.

“Karya beliau seperti kompas bagi kami. Sistematis, jelas, dan sangat dibutuhkan dalam praktik. Bukan hanya teori, tetapi panduan yang hidup dalam dunia kerja,” lanjut Apriceni.

Dalam pandangannya, apa yang dilakukan Dr. Jarot bukan sekadar menulis. Ia sedang membangun fondasi berpikir bagi generasi UNHENA berikutnya. Fondasi yang akan terus menghidupi kampus bahkan saat para mahasiswanya telah melangkah jauh dari bangku kuliah.

Apriceni berharap semangat berkarya ini menjadi inspirasi bagi dosen maupun mahasiswa. Baginya, karya ilmiah bukan hanya tentang memenuhi tuntutan akademik, tetapi tentang meninggalkan jejak jejak yang suatu hari akan menjadi pijakan bagi orang lain.

Di tengah perayaan satu dekade UNHENA, suara-suara seperti yang disampaikan Apriceni menjadi pengingat bahwa sebuah universitas tumbuh bukan hanya dari institusi yang berdiri secara fisik, tetapi dari manusia-manusia yang keluar dan kembali dengan rasa bangga.

Dan di Tanah Hibualamo, kisah itu masih terus ditulis perlahan, pasti, dan penuh harapan untuk masa depan yang lebih cerah. (Cheni)

 

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *