banner 728x90
BeritaDaerah

SEMMI Malut Desak Polda Bongkar Dugaan Illegal Logging CV Anugerah 4 Mangoli Mandiri di Sula

56
×

SEMMI Malut Desak Polda Bongkar Dugaan Illegal Logging CV Anugerah 4 Mangoli Mandiri di Sula

Sebarkan artikel ini

Ternate, Potretone.com,- Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Wilayah Maluku Utara mendesak Polda Maluku Utara untuk segera menindak tegas dugaan aktivitas penebangan kayu ilegal (illegal logging) yang dilakukan oleh CV Anugerah 4 Mangoli Mandiri di Desa Wailoba, Kecamatan Mangoli Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula. Rabu, (5/11/2025).

Menurut laporan masyarakat, perusahaan tersebut telah beroperasi selama dua pekan terakhir menggunakan alat berat tanpa sosialisasi, tanpa izin resmi, dan tanpa persetujuan masyarakat. Aktivitas itu memicu kemarahan warga hingga memblokir akses jalan menuju lokasi penebangan pada awal pekan ini.

banner 728x90

Ketua SEMMI Maluku Utara, Sarjan H. Rivai mengecam keras dugaan praktik tersebut dan menilai tindakan perusahaan telah melanggar sejumlah regulasi, terutama Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, serta Pasal 50 ayat (3) huruf e Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, yang secara tegas melarang penebangan atau pemanfaatan hasil hutan tanpa izin dari pejabat berwenang.

“Kalau benar CV Anugerah 4 Mangoli Mandiri melakukan penebangan tanpa izin, maka itu jelas tindak pidana kehutanan. Polda Maluku Utara tidak boleh tinggal diam. Kami mendesak Kapolda segera membentuk tim khusus untuk menyelidiki dan menghentikan seluruh aktivitas perusahaan di lokasi tersebut,” tegas Ojan, dalam pernyataan resmi, Rabu (5/11/2025).

Ojan menilai bahwa tindakan perusahaan bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menunjukkan arogansi korporasi terhadap masyarakat adat dan lingkungan hidup. Ia juga menyoroti dugaan hubungan antara CV Anugerah 4 Mangoli Mandiri dengan perusahaan lama CV Ajahra Karya, yang pernah beroperasi di wilayah Mangoli dan juga menuai protes serupa.

“Pergantian nama perusahaan bukan berarti menghapus dosa lama. Kalau direkturnya sama, ini patut diduga sebagai upaya mengelabui publik dan pemerintah daerah,”tambahnya.

Lebih lanjut, SEMMI menilai pemerintah daerah, terutama Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Sula, gagal menjalankan fungsi pengawasan sebagaimana diatur dalam Pasal 8 dan Pasal 9 UU No. 18 Tahun 2013, yang menegaskan peran pemerintah dalam mencegah serta menindak perusakan hutan.

“Negara jangan kalah oleh korporasi. Ini bukan sekadar persoalan kayu, tapi soal kedaulatan rakyat atas ruang hidupnya. Jika penegak hukum tidak segera bertindak, SEMMI akan membawa kasus ini ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Komisi IV DPR RI,” tegas Ojan.

SEMMI juga menyatakan siap mengawal aspirasi masyarakat Desa Wailoba melalui jalur hukum dan advokasi lingkungan. Mereka menegaskan, tindakan blokade jalan oleh warga merupakan bentuk kekecewaan yang wajar akibat absennya kehadiran negara di tengah konflik sumber daya alam.

Hingga berita ini diturunkan, pihak CV Anugerah 4 Mangoli Mandiri belum memberikan keterangan resmi, meski upaya konfirmasi terus dilakukan. (Ra)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Sanana,- Aksi demonstrasi yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Kabupaten Kepulauan Sula untuk menyoroti dugaan kasus-kasus korupsi di daerah berakhir ricuh. Ketua IMM Kepulauan Sula, Prabowo Sibela, mengaku menjadi korban dugaan pemukulan oleh seorang oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat menyampaikan aspirasi di depan Istana Daerah, Desa Fagudu, Kecamatan Sanana, Minggu (31/5/2026).

Berita

Potretone.com, Sanana,- Sikap diam Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Sula terkait dugaan pelanggaran ketenagakerjaan di PT Mangoli Timber Produsen (MTP) mulai memantik kritik keras. Lembaga legislatif yang memiliki fungsi pengawasan di bidang tenaga kerja itu dinilai belum menunjukkan keberanian politik untuk membela ribuan pekerja lokal yang diduga kehilangan hak-hak normatifnya.