banner 728x90
banner 728x90
BeritaOpini

Catatan Kopi Pagi: Marak Kasus Asusila di Kabupaten Kepulauan Sula.

27
×

Catatan Kopi Pagi: Marak Kasus Asusila di Kabupaten Kepulauan Sula.

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mohtar Umasugi

PotretOne.com, Sanana – Pagi ini, sambil menikmati hangatnya kopi di beranda rumah, saya termenung membaca satu per satu laporan media lokal yang belakangan ini kasus asusila meningkat di tengah masyarakat kita di Kabupaten Kepulauan Sula. Mirisnya, pelaku dan korban tak jarang masih di usia belia bahkan orang dewasa dan para tokoh. Saya pun bertanya dalam hati, apa sebenarnya yang sedang menggerogoti akar moral masyarakat dan generasi kita?

banner 728x90

Di antara banyak sebab yang disorot, dua hal mencuat kuat dalam benak saya: konten SOR (seksual, orientasi, dan relasi) yang marak di media sosial, serta akses bebas terhadap situs porno. Dua hal ini, meski sering dianggap sepele atau “urusan pribadi”, ternyata berpotensi besar merusak tatanan sosial, terutama di wilayah seperti Kepulauan Sula yang masih sangat menjunjung norma budaya dan agama.

Dulu, anak-anak kita belajar nilai dan malu dari rumah, sekolah, serta lingkungan sosial yang ketat menjaga norma. Hari ini, mereka belajar banyak hal dari layar kecil di tangan mereka—tanpa batasan, tanpa penyaring nilai. Cukup dengan satu sentuhan jari, terbuka dunia yang menampilkan tubuh sebagai komoditas dan seksualitas sebagai hiburan.

Konten SOR yang tersebar di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, bahkan iklan game online, menyusup dengan halus. Ia membentuk pola pikir yang permisif terhadap eksplorasi tubuh dan relasi bebas. Konten ini tak hanya berasal dari luar, tetapi juga diproduksi oleh sesama anak bangsa terkadang bahkan oleh anak daerah sendiri.

Ditambah dengan situs porno yang dapat diakses kapan saja tanpa filter yang memadai, anak-anak dan remaja—yang secara psikologis masih mencari jati diri dan gampang penasaran—akhirnya menjadi korban dari ketidaksiapan moral, edukasi, dan pengawasan.

Beberapa catatan resmi maupun informal dari tokoh masyarakat, sekolah, hingga kepolisian menunjukkan lonjakan laporan kasus asusila dalam dua tahun terakhir. Fenomena ini tidak lagi terjadi di kota besar saja, melainkan sudah masuk hingga ke pelosok desa, bahkan sekolah dan rumah ibadah tidak luput dari keterkejutan demi keterkejutan. Ada pelajar yang menjadi pelaku dan korban, ada relasi kekuasaan yang dimanipulasi, dan lebih buruknya: ada masyarakat yang mulai apatis.

Pertanyaan pentingnya adalah: apakah kita siap membayar mahal harga dari kelalaian ini?

Dalam analisis sederhana saya, kita butuh dua hal secara bersamaan: literasi digital dan literasi moral. Pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan dan instansi keagamaan, harus mulai berani mengangkat isu ini ke permukaan bukan sekadar menutup-nutupi agar ‘nama daerah tidak tercoreng’.

Kurikulum sekolah harus memasukkan pendidikan seksual berbasis nilai agama dan budaya lokal, agar anak-anak paham tubuh mereka, batas-batas interaksi, dan cara menjaga harga diri. Orang tua juga perlu dilibatkan dalam pendampingan digital, tidak bisa lagi menyerahkan pendidikan moral sepenuhnya ke sekolah atau guru agama.

Perlu juga sinergi antara tokoh agama, tokoh adat, dan pemuda untuk membangun gerakan sosial baru: Gerakan Menjaga Ruang Digital Bersih dan Bermoral. Bukan hanya soal memblokir, tapi soal membangun kesadaran.

Kopi saya pagi ini mulai mendingin. Namun pikiran saya justru semakin panas. Saya tidak ingin menulis opini ini hanya untuk dibaca lalu dilupakan. Ini alarm sosial yang harus kita dengar bersama. Jika kita terus mengabaikan, masyarakat dan generasi muda kita akan tumbuh dalam dunia semu yang menjadikan tubuh sebagai alat, dan relasi sebagai permainan.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teknologi. Tapi kita bisa sepenuhnya bertanggung jawab jika kita tidak membentengi generasi kita dengan nilai, pengawasan, dan kasih sayang yang cukup. Situs porno dan konten SOR bukan sekadar hiburan atau “urusan pribadi” ia telah menjadi faktor destruktif dalam membentuk perilaku sosial generasi.

Mari kita jaga Sula, jaga masa depan anak-anak kitadimulai dari pagi ini, dari rumah kita sendiri. (**)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Potretone.com, Sanana,- Kasus dugaan persetubuhan anak di bawah umur di Desa Falabisahaya Kecamatan Mangoli Utara, akhirnya masuk babak baru. Berkas kasusnya suda diserahkan polisi ke Kejaksaan Negeri Kepulauan Sula pada 13 April 2026 dan sekarang masi di periksa apakah suda lengkap (P21) atau belum. 

Berita

Potretine.com, Sanana,- Proyek pembangunan tower di Desa Buya, Kecamatan Mangoli Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, kini disorot tajam oleh Panitia Khusus (Pansus) DPRD setempat. Proyek bernilai lebih dari Rp3 miliar itu diduga kuat tidak menjalankan prinsip transparansi setelah ditemukan tidak adanya papan informasi proyek di lokasi pekerjaan. Selasa, (14/4/2026).