banner 728x90
banner 728x90
BeritaHukum

Mafia BBM Di Kota Di Tangkap Oleh APH Dumai, Namun Penimbunan BBM Subsidi Milik Silalahi Seakan Terus Dilindungi Oleh APH

206
×

Mafia BBM Di Kota Di Tangkap Oleh APH Dumai, Namun Penimbunan BBM Subsidi Milik Silalahi Seakan Terus Dilindungi Oleh APH

Sebarkan artikel ini

Potretone.com Dumai –  Sangat diapresiasi Pada tanggal 14 maret 2025 Polres Dumai berhasil menangkap pelaku penimbunan BBM subsidi jenis bio solar di jalan merdeka kota Dumai, namun mafia BBM subsidi milik Silalahi di jalan Gatot Subroto km7 seakan terus dilindungi dan sampai saat ini aktivitas di lokasi tersebut berjalan lancar, ada apa dengan APH Kota Dumai?

Hal ini seakan ada yang ditutupi oleh Aparat Penegak Hukum Polres Dumai, akankah seterusnya lokasi penimbunan BBM subsidi milik Silalahi dibiarkan beraktivitas bebas secara ilegal?

banner 728x90

Padahal kegiatan di lokasi penimbunan BBM milik Silalahi menampung puluhan ribu liter BBM jenis bio solar subsidi yang ditampung setiap harinya, yang akan dijual kembali ke pengencer dengan harga industri, sehingga dua kali lipat keuntungan yang dihasilkan oleh pelaku tersebut dan infonya diduga BBM subsidi yang ditampung diolah kembali agar tonasenya bertambah.

Dari informasi yang didapat oleh awak media ini, ternyata sebelum pelaku membuka lokasi penampungan pelaku sudah permisi dulu alias ketok pintu dengan Bhabinkamtibmas ,Babinsa dan sampai ke Aph kota Dumai sehingga diizinkan melakukan aktivasi secara ilegal sampai saat ini.

Masyarakat kota Dumai pun berharap agar mafia tersebut juga di basmi seperti yang dijalan merdeka tersebut(APH jangan pilih pilih), karna takutnya masyarakat minyak BBM yang dijual secara literan di pinggiran jalan, BBM dari mafia milik Silalahi tersebut dan takut berdampak kepada kendaraan masyarakat yang membelinya. (Red)

 

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Potretone.com, Sanana,- Angin laut di Pelabuhan Sanana siang itu berembus pelan, seolah ikut membawa kenangan-kenangan lama yang hampir terlupakan. Di antara langkah kaki para penumpang yang turun dari kapal KM. Permata Obi pada 28 April 2026, ada sekelompok orang tua yang berjalan perlahan bukan semata karena usia, tetapi karena mereka sedang memikul sesuatu yang tidak sisa-sisa budaya yang kian menipis dimakan zaman.