banner 728x90
banner 728x90
Opini

Stigma : Dari Luka Menjadi Kekuatan

33
×

Stigma : Dari Luka Menjadi Kekuatan

Sebarkan artikel ini

Oleh Mohtar Umasugi

Saya lahir dan tumbuh di kampung waisakai, sebuah kampung yang jauh dari hiruk pikuk kota. Hidup di kampung mengajarkan saya tentang arti kebersamaan, gotong royong, dan kesederhanaan. Namun, sejak kecil saya sering berhadapan dengan sebutan yang terasa seperti duri dalam daging: Hai Yon. Dalam bahasa daerah kami, Hai Yon berarti kampungan — istilah yang seharusnya netral, tetapi sering diucapkan dengan nada merendahkan dan menghina.

banner 728x90

Di banyak percakapan, kata Hai Yon digunakan untuk menandai seseorang yang dianggap ketinggalan zaman, kurang berpendidikan, dan tidak tahu tata krama modern. Saya masih ingat ketika pertama kali pergi ke kota untuk melanjutkan sekolah. Dengan logat daerah yang kental, pakaian sederhana, dan sikap yang apa adanya, saya menjadi bahan olok-olok.
“Lihat, itu si Hai Yon,” kata seseorang sambil tertawa.
Atau, “Nggak heran, namanya juga kampungan, mana ngerti gaya hidup kota.”

Kata-kata itu awalnya hanya terdengar seperti lelucon, tetapi semakin lama terasa seperti pukulan yang menghancurkan rasa percaya diri. Saya mulai ragu berbicara dalam bahasa daerah saya. Saya bahkan pernah sengaja mengubah cara berpakaian dan gaya bicara hanya agar tidak lagi disebut Hai Yon. Namun, semakin saya mencoba melarikan diri dari identitas saya, semakin saya merasa kehilangan jati diri.

Saya sadar, stigma ini bukan hanya tentang saya, tetapi juga tentang banyak orang yang berasal dari kampung. Kami sering dipandang sebelah mata, seolah-olah kampungan berarti bodoh, miskin, atau tidak layak berada di panggung yang lebih besar. Padahal, di balik kesederhanaan kampung, tersimpan nilai-nilai luhur yang justru menjadi kekuatan.

Dalam perspektif sosiologi, stigma Hai Yon merupakan produk relasi kuasa antara kota dan desa. Kota sering dianggap pusat kemajuan, sementara desa dilabeli sebagai daerah tertinggal. Label ini kemudian melekat pada individu yang berasal dari desa, menjadikannya target diskriminasi dan olok-olok.

Erving Goffman dalam teorinya menyebut stigma sebagai tanda yang mengurangi nilai seseorang di mata masyarakat. Stigma kampungan tidak hanya memengaruhi bagaimana orang lain memperlakukan seseorang, tetapi juga memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri. Anak kampung yang terus-menerus mendengar ejekan Hai Yon bisa mengalami inferiority complex — perasaan rendah diri yang membuat mereka takut bersuara, takut bermimpi, bahkan takut menjadi diri sendiri.

Namun, stigma juga dapat memunculkan resistensi. Beberapa orang, termasuk saya, memilih menjadikan stigma itu sebagai pemicu semangat. Saya ingin membuktikan bahwa menjadi anak kampung bukanlah kelemahan. Dengan pendidikan dan kerja keras, saya bisa bersaing bahkan melampaui mereka yang pernah meremehkan saya. Dalam banyak hal, orang kampung memiliki keunggulan tersendiri: mentalitas pekerja keras, ketangguhan menghadapi kesulitan, dan ikatan sosial yang kuat.

Stigma hai yon ( kampungan ) juga berkaitan dengan persoalan budaya. Di era modern, standar perilaku, penampilan, dan gaya hidup sering ditentukan oleh budaya kota. Apa yang berbeda dari standar itu dianggap kuno atau ketinggalan zaman.

Misalnya, berbicara dengan logat daerah dianggap tidak keren, padahal logat adalah bagian dari identitas budaya. Pakaian sederhana dianggap tidak fashionable, padahal kesederhanaan adalah cerminan nilai hidup yang membumi.
Di sinilah letak ketidakadilan budaya: modernitas dipaksakan sebagai ukuran tunggal kemajuan, sementara tradisi lokal dipinggirkan.

Saya mulai memahami bahwa stigma kampungan sesungguhnya adalah persoalan perspektif. Menjadi kampungan bukan berarti salah, yang salah adalah ketika kita dipaksa meninggalkan jati diri demi memenuhi standar orang lain.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk merangkul identitas saya sebagai seorang yang berasal dari kampung. Saya belajar bahwa kata Hai Yon hanya memiliki kekuatan jika saya membiarkannya menyakiti saya. Jika saya berdiri tegak dengan kebanggaan, kata itu tidak lagi menjadi ejekan, melainkan pengingat tentang perjalanan saya.

Kampung bagi saya adalah tempat awal yang membentuk karakter. Dari kampung, saya belajar tentang ketekunan, kejujuran, dan kerja keras. Nilai-nilai ini adalah fondasi yang sering hilang di tengah gegap gempita kota. Menjadi kampungan dalam arti berpegang pada nilai luhur kampung justru bisa menjadi kekuatan di era yang semakin dangkal.

Saya percaya, yang menentukan kualitas seseorang bukanlah asal usulnya, melainkan apa yang ia lakukan dengan hidupnya. Banyak tokoh besar Indonesia lahir dari kampung dan membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Mereka adalah bukti nyata bahwa stigma hanyalah ilusi.

Hari ini, ketika saya mendengar kata Hai Yon, saya tidak lagi merasa tersakiti seperti dulu. Saya memilih untuk menjadikannya bahan bakar semangat. Saya adalah anak kampung yang mungkin dulu diremehkan, tetapi saya juga adalah orang yang berani bermimpi dan berjuang.

Saya ingin membuktikan bahwa kata kampungan tidak selamanya bernada negatif. Suatu hari, ketika orang menyebut saya Hai Yon, saya ingin mereka mengatakannya dengan penuh rasa kagum dan hormat. Karena dari kampung yang sederhana, saya percaya, bisa lahir orang-orang besar yang membawa perubahan bagi dunia.

Stigma mungkin awal cerita, tetapi akhir cerita ada di tangan kita. Dan saya memilih untuk menulisnya dengan tinta keberanian, kebanggaan, prestasi dan karya. (Bang Mo)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *