Oleh : Rifki Leko ketua GMNI Cabang Kepulauan Sula.
Mungkin tak ada Badai tak ada angin,tak ada malam tak ada bintang, datangnya gelap hilang cahaya, tak ada asap jika tak ada api, kata pepatah lama, barisan kata – kata ini lahir, tentunya bukan tanpa sebab. Sesuai hukum alam, Karl Maxs mengatakan ada aksi ada reaksi. Sehingga munculnya tulisan ini karena atas kondisi hari ini.
Rifki Leko
Bernostalgia 89 tahun Indonesia merdeka, hilangnya moralitas Aktivis dan lahirnya Generasi Pragmatis,: Oleh Rifki Leko, dalam pemahaman gerakan sosial (Social Movement) dan literatur gerakan politik (Political Movement), posisi aktivis memiliki tempat yang diperhitungkan. Meski Gerakan sosial dipahami sebagai upaya Kolektif untuk mengubah norma dan nilai kata (Smelser, 1962 : 3) tetapi dalam upaya kolektif itu hampir tidak hening dari suara dan peran aktivis yang menonjol.
Para Aktivis negeri ini telah mencatatkan perjalangan gerakan sosial dan gerakan politik mereka dengan tinta emas dalam catatan literasi para Sejarawan dan menjadi pustaka rujukan gerakan pada masa setelahnya. Mari kita Tengoklah sejarah masa lalu, lembaran sejarah telah mengukir bagaimana masa perjuangan pergerakan kebangsaan Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan modern, di mana para pemuda aktivis masa itu melahirkan gerakan sosial politik sebagai masa awal pergerakan nasional. Sebut saja Budi Utomo misalnya, berdiri atas prakarsa dari Dokter Wahidin Sudirohusodo yang berpendapat bahwa untuk mewujudkan masyarakat yang maju pendidikan harus diperluas. Pendidikan ini dapat dilaksanakan dengan usaha sendiri tanpa menuntut pemerintah kolonial.
Pada akhir tahun 1907 Dr.Wahidin Sudirohusodo menyampaikan gagasan ini di depan mahasiswa Stovia di Jakarta. Pidato Dr. Wahidin Sudirohusodo mendapat tanggapan positif dari mahasiswa Stovia. Kemudian Sutomo seorang mahasiswa Stovia segera mengadakan pertemuan dengan teman-temannya guna membicarakan usaha memperbaiki nasib bangsa. Pada hari minggu tanggal 20 Mei 1908, Sutomo beserta kawan-kawannya berkumpul di Jakarta dan sepakat mendirikan Budi Utomo yang berarti “Usaha Mulia”, yang bertujuan mencapai kemajuan dan meningkatkan derajat bangsa melalui pendidikan dan kebudayaan. Para mahasiswa Stovia yang tergabung di dalam Budi Utomo antara lain Sutomo sebagai ketua, M.Suradji, Muhammad Saleh, Ms.Suwarno, Sulaiman, Gunawan Mangunkusomo, Muhammad Sulaiman, dan Gumbreng. Pemerintah kemudian menetapkan tanggal berdirinya Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Setelah lahirnya Budi Utomo pada tahun 1911 Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam pada 1912 yang bercorak sosial, ekonomi, pendidikan, dan keagamaan bahkan dalam perkembangan nya kemudian bergerak dalam bidang politik.
Kemudian lahir pula Muhammadiyah berdiri di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912. Pendirinya K.H. Ahmad Dahlan, merupakan organisasi yang berasaskan Islam dan berhaluan nonpolitik. Kegiatannya selain dalam bidang agama juga bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, dan budaya, yang bertujuan mewujudkan umat Islam yang cerdas dan berwawasan kebangsaan. Lalu Pada tahun 1918 kaum wanita Muhammadiyah juga mendirikan Aisyiah. Masa awal pergerakan nasional pun terus berlanjut dengan semangat kritis para Aktivis melepaskan diri dari kungkungan penjajahan dan juga Taman Siswa adalah organisasi pergerakan nasional yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922. Organisasi ini didirikan dengan tujuan untuk memperbaiki sistem pendidikan secara kultural yang diselenggarakan dengan baik.
Taman siswa menjadi tonggak penataan pengembangan pendidikan nasional untuk sampai seperti saat ini. Organisasi ini dijalankan dengan demokratis dan mengutamakan kepentingan rakyat Indonesia.Organisasi ini pulalah yang meningkatkan kesadaran peran pendidikan nasional penting untuk mencapai kemerdekaan Selain organisasi tersebut, masih banyak organisasi lain yang didirikan dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Seperti Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dengan pendirinya Ir. Soekarno.
lalu 1928 lahir lah sumpah pemuda, dan puncaknya pada 1945 atas nama Bangsa Indonesia Soekarno – Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Warna kehidupan bangsa ini terus bermetamorfosis, para Aktivis lah yang banyak mencoretkan kanvas melukis wajah negeri ini, sehingga kita mengenal peristiwa G30 S/PKI 1965 melahirkan gerakan penumpasan PKI, tercatat pula 1974 Peristiwa Malari yang digerakkan para mahasiswa, dan yang tak kalah dahsyatnya adalah gerakan aktivis 1998 yang melahirkan semangat reformasi. Masa itu memang telah lewat, dan kita semua menyadari bahwa masa kini ada karena masa lalu dan akan selalu menjadi cermin atas perjalanan kehidupan pergerakan aktivis saat ini.
Semangat para pendahulu tersebut tentu tak lapuk karena hujan dan tak lekang karena panas. Hal empirik yang sering ditunjukan oleh aktivis adalah sikap idealismenya, sikap kritisnya, leadership-nya, pembelaanya pada kaum lemah, dan bahkan sikap militannya. Sejumlah indikator manifes itulah yang melekat pada seorang aktivis. Gerakan sosial dan gerakan politik selalu meniscayakan peran penting aktivis di dalamnya. Aktivis dalam pengertian etimologis dipahami sebagai seseorang yang aktif dalam sebuah gerakan dan concern dengan idealitas bidang yang diperjuangkannya. Gerakan sosial dan gerakan politik selalu meniscayakan peran penting aktivis di dalamnya. Aktivis dalam pengertian etimologis dipahami sebagai seseorang yang aktif dalam sebuah gerakan dan concern dengan idealitas bidang yang diperjuangkannya. Pada kekinian muncul pertanyaan masihkah semua idealisme itu? Jawaban nya ada dua, pertama, tentu masih banyak aktivis yang mempertahankan idealismenya dengan tetap berdiri pada kepentingan perjuangannya bagi kaum lemah, masyarakat dan bangsa ini. Kedua, lahirnya aktivis pragmatis, yang menampakkan adanya kecenderungan pada sebagian aktivis yang akhirnya meninggalkan rakyat yang dulu mereka perjuangkan, bahkan harapan rakyat kepadanya dilupakan, karena kemudian aktivis ini lebih mementingkan kepentingan pemenuhan kebutuhan dirinya, apakah dari sisi ekonomi ataupun kepentingan bagi kekuasaannya. Miris memang aktivis yang pragmatis seperti ini. Lalu apa yang menyebabkan aktivis menjadi pragmatis dan menyebabkan kehilangan idealismenya? Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkannya. Pertama, karena rendahnya integritas. Rendahnya integritas ini terkait moralitas aktivis yang buruk dan lemahnya cita-cita perjuangan. Moralitas yang buruk memudahkan aktivis terjebak dalam pragmatisme politik. Lemahnya cita-cita pada fase tertentu membuat aktivis kehilangan arah. Sehingga jika kedua hal ini dominan maka dengan sendirinya integritas ditanggalkan. Tradisi intelektual yang buruk juga memberikan sumbangan bagi rendahnya integritas. Rendahnya tradisi membaca, menulis, diskusi, dan riset adalah ciri buruknya tradisi intelektual aktivis. Kedua, kemiskinan. Faktor ini melemahkan kesabaran aktivis dalam penderitaan. Tidak sedikit aktivis yang miris itu karena tidak sabar dalam penderitaan hidup. Mereka tidak menyadari bahwa seharusnya sejak dalam pikiran memilih menjadi aktivis itu adalah pilihan rasional jalan perjuangan dan jalan juang itu harus siap berkorban untuk sabar dalam kemiskinan. Ini semacam ada hukum sosial yang perlu dipahami aktivis jika seseorang memilih jalan juang maka berkorban untuk sabar dalam kemiskinan adalah resiko dari pilihan. Tetapi nampaknya kredo ini tidak sepenuhnya diyakini oleh mereka yang memilih jalan aktivis. Ketiga, sistem. Bahwa sistem di luar diri aktivis telah menyeret aktivis berubah menjadi pragmatis yang miris. Ia terjebak dalam mekanisme sistemik dalam praktik politik transaksional dan oligarkis yang parah. Begitu aktivis memasuki arena politik ia dihadapkan pada sistem politik transaksional. Meski aktivis yang memilih jalan pragmatis ini sering berargumen mengorbankan idealisme demi cita-cita besar tetapi luka rakyat terlalu menganga dihianati untuk waktu yang tak jelas ujungnya. Tetapi sekali lagi tentu masih ada dan banyak pula aktivis yang mempertahankan idealisme perjuangan nya dengan tetap berdiri pada kepentingan yang lebih luas bagi masyarakat dan bangsa ini, karena mereka masih bercermin pada idealisme Sutomo, Soekarno, Hatta, Agus Salim, dan para aktivis pejuang masa lampau.
Sebagai seorang aktivis tentu mengenal sosok pemikir bernama Tan Malaka. Ia merupakan satu dari banyaknya keturunan minang yang diakui pemikirannya. Sepanjang karier pengajaran dan pelariannya, Tan pernah berkata “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda. Lalu benarkah yang demikian itu, sebab belakangan sikap seperti itu hanya terdapat pada masa Tan, Gie, Sjahrir, Hamka, Soekarno, Bung Hatta….? Tokoh-tokoh di atas membanggakan idealismenya lebih dari godaan kepentingan. Mereka rela menjadi martir kekuasaan, dicaci, dihujat, dan difitnah, namun tetap menggenggam erat idealismenya. Sejak dari masa pendidikan entah itu HIS, HBS, Kweekschool, dan sekolah kolonial setara sekolah rakyat lainnya mereka tetap bangga menjadi Inlandres atau Pribumi.
Secara historis, dari masa keemasan kerajaan nusantara sampai kepada periode pergerakan nasional, pemuda Indonesia dikenal dengan semangat perjuangannya. Jika membedah lebih dalam mengenai kalimat Tan di atas, maka jelas terlihat bahwa ia mencoba merangkai dua diskursus menjadi satu masalah serius. Diskursus pertama adalah idealisme, kemudian diskursus kedua ialah pemuda. Idealisme yang dipunyai mahasiswa dan/atau pemuda memang seyogyanya merupakan kemewahan yang dimilikinya. Sikap idealis telah banyak membantu singkap tabir dalam kotak pandora, seperti tritura, maupun reformasi. Memang jelas hal tersebut merupakan tanggung jawab moral yang harus disikapi secara benar. Sebab bila tidak, justru sikap idealis yang katanya menjadi kemewahan terakhir malah akan mengubur mahasiswa tersebut kepada pusaran kepentingan.
Pengorbanan dan derita demi kepentingan rakyat adalah keniscayaan jalan juang yang mereka pilih. Duhai aktivis muda yang masih terjaga, perjelas garis demokrasimu. Menjaga jalan juang adalah keniscayaan ditengah miskinnya teladan saat ini.















