Oleh: Mohtar Umasugi
PotretOne.com, Sanana- Pagi ini, secangkir kopi pahit terasa lebih dari sekadar peneman sunyi. Ia menjadi cermin untuk merenung lebih dalam. Di sela tegukan pertama, saya merenungi sebuah pertanyaan yang kini sering muncul di tengah masyarakat: “Bagaimana pendapat Anda bila dikatakan Sula dalam keadaan tidak baik-baik saja?”
Pertanyaan ini bukan sekadar isapan jempol. Ia lahir dari kenyataan yang berbicara lantang. Kita mendengarnya dari keluh kesah pedagang di pasar, dari jeritan petani yang tak mampu beli pupuk, dari mahasiswa yang mengeluh soal akses pendidikan, dan dari nelayan yang makin sulit melaut akibat harga solar yang tak terkendali.
Mari kita buka mata: Sula memang sedang tidak baik-baik saja. Kondisi ini bukan hanya soal fisik jalan berlubang atau proyek yang mangkrak. Ini tentang rasa kehilangan harapan, tentang mimpi-mimpi masyarakat kecil yang pelan-pelan padam di tengah janji-janji pembangunan.Menurut Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr. pakar pembangunan wilayah dari IPB University, gejala stagnasi daerah bisa dilihat dari tiga indikator utama: pertama, lemahnya distribusi keadilan ekonomi; kedua, turunnya kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah; dan ketiga, menguatnya ketimpangan pusat-daerah dalam pengambilan keputusan strategis.
Ketiga indikator ini, sayangnya, mulai terasa di Kepulauan Sula. Lihat saja bagaimana anggaran tahunan sering kali terpusat pada pembangunan simbolik, sementara kebutuhan dasar masyarakat air bersih, pendidikan berkualitas, dan pelayanan kesehatan masih jauh dari memadai. Kita belum benar-benar menyentuh inti masalah pembangunan: membahagiakan rakyat.
Ekonomi lokal pun tak bergerak secara adil. Banyak pelaku UMKM menutup usahanya diam-diam. Di sisi lain, investasi besar kadang masuk tanpa keterlibatan masyarakat lokal secara bermakna. Ini menjadikan warga hanya penonton di tanahnya sendiri. Dr. Faisal Basri, Ekonom senior dari Universitas Indonesia, pernah menekankan bahwa pembangunan yang tak berbasis kearifan lokal hanya akan menciptakan ilusi kemajuan.
Dalam kopi pagi saya hari ini, saya tak ingin larut dalam keluhan. Saya percaya bahwa mengakui Sula sedang tidak baik-baik saja adalah langkah awal untuk memperbaikinya. Kejujuran adalah awal dari perubahan. Kita butuh pemimpin yang berani mengatakan “ada yang salah”, bukan hanya sibuk menutupi lubang dengan karpet merah.
Saya percaya, masyarakat Sula tidak butuh kemewahan yang dibangun dari utang dan proyek mercusuar. Mereka hanya ingin hidup layak, sekolah yang baik untuk anak-anaknya, akses jalan yang aman, serta layanan kesehatan yang manusiawi. Itu saja. Bukankah itu juga amanat konstitusi?
Lalu bagaimana selanjutnya? Kita butuh ruang dialog terbuka. Pemerintah daerah harus membuka telinga, bukan hanya mendengar pujian, tapi juga kritik yang membangun. Kita perlu ekosistem kebijakan yang melibatkan kampus, tokoh masyarakat, dan anak muda. Jangan biarkan suara rakyat terkubur dalam formalitas birokrasi.
Maka, saat saya ditanya bagaimana kabar kabupaten kepulauan Sula : tentu saya jawab: Ya, keadaan di Sula sedang tidak baik-baik saja. Tapi saya tidak ingin hanya mengeluh. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan. Karena saya percaya, dari secangkir kopi pagi yang jujur, bisa lahir semangat untuk memperbaiki keadaan. (**)



















