Potretone.com Kab. Sula – Rifki leko ketua DPC GMNI sula.
Setiap menjelang Ramadan dan Idulfitri, harga pangan di sejumlah daerah selalu naik. Tetapi, pada 2024, kenaikan harga pangan yang terjadi di berbagai daerah tidak bisa dibilang biasa saja.
Kenaikan harga pangan yang kini membebani masyarakat lebih disebabkan karena ketidakmampuan pemerintah daerah mengantisipasi masalah tahunan yang seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk berkaca.
kenaikan harga pangan tidak hanya terjadi pada harga beras yang notabene merupakan makanan pokok seluruh masyarakat, apa lagi yang terjadi di sula saat ini.
Kenaikan harga juga dialami sejumlah bahan pangan lainnya.Kenaikan harga beras dan harga pangan yang terus melambung selama beberapa bulan terakhir, bila tidak segera diatasi dikhawatirkan akan menekan pertumbuhan ekonomi, sehingga proses recover ( pemulihan )masyarakat menjadi kian lambat.
Bagi masyarakat miskin atau ekonomi rendah yang tidak bisa mengembangkan pola kehidupan yang subsisten, bisa dipastikan mereka akan menjadi korban pertama, yang paling menderita dari tren meningkatnya harga pangan di pasaran.
Pemerintah daerah dalam berbagai kesempatan telah menyatakan bahwa kenaikan harga pangan adalah hal yang tidak terhindarkan. Ini adalah pola yang selalu terjadi menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Semoga pemerintah daerah kabupaten Kepulauan Sula mampu mengatasi masalah kenaikan bahan pangan.
Melalui operasi pasar, pemerintah optimistis imbas dari lonjakan harga pangan akan dapat diredam. Sejauh mana sikap optimistis pemerintah daerah, terbukti di lapangan tentu akan diuji oleh waktu. Tetapi, yang jelas imbas inflasi pangan saat ini sudah mulai terasakan.
Secara garis besar, beberapa dampak yang beresiko terjadi ketika inflasi pangan tidak segera dijinakkan oleh pemerintah daerah,adalah.
Pertama, melonjaknya harga pangan niscaya akan memicu terjadinya inflasi yang ujung-ujungnya akan memengaruhi daya beli masyarakat.
Kenaikan harga beras, cabai merah, telur, daging dan lain-lain misalnya, bukan hanya menyebabkan terjadinya inflasi, tetapi juga akan menggerogoti daya beli masyarakat.
Apa lagi dengan waktu dekat ini menuju kesiapan lebaran industri
Kedua, lonjakan harga pangan niscaya akan memukul daya tahan keluarga miskin atau ekonomi rendah. Saat ini, diakui atau tidak, golongan masyarakat yang paling terdampak kenaikan harga pangan umumnya adalah keluarga-keluarga miskin yang tersebar di berbagai daerah.
Ketika harga pangan naik, sementara penghasilan masyarakat tetap atau bahkan menurun, maka bisa dibayangkan apa yang bakal dialami keluarga-keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Tabungan atau simpanan yang dimiliki keluarga, mau tidak mau akan terkikis pelan-pelan, sehingga tidak ada lagi penyangga ekonomi yang dimiliki keluarga miskin.
Harapan dari ketua DPC GMNI Sula semoga pemerintah daerah mampu mengatasi masalah ini dengan secepat mungkin.
Ketiga, akibat lonjakan harga pangan, maka pengeluaran rata-rata masyarakat untuk pangan akan ikut naik. , saat ini diperkirakan porsi pengeluaran untuk pangan saat ini sudah mencapai angka yang besar,
Artinya kalau peng-hasilan yang bisa diperoleh masyarakat tetap, tetapi di saat yang sama harga pangan terus naik, maka porsi untuk pengeluaran pangan makin membengkak sehingga jatah untuk pengeluaran lain menjadi makin mengecil.
Keempat, meski tidak langsung, kenaikan harga pangan yang menyebabkan inflasi naik, bukan tidak mungkin akan mengakibatkan disparitas antarkelas menjadi lebih terpolarisasi.
Banyak studi telah membuktikan bahwa inflasi akan makin memperlebar kesenjangan distribusi pendapatan. Kenaikan harga pangan yang terjadi menjelang bulan Ramadan dan Idulfitri sesungguhnya adalah alarm bagi pemerintah dan masya-rakat agar lebih berhati-hati menghadapi imbasnya di lapangan.
,jika perintah mengandalkan pada program inter-vensi yang sifatnya instan, seperti operasi pasar, impor beras, atau gelar pasar murah di tiap bulan suci ramadhan, menjelang idul Fitri dan lain sebagainya
Jangan sampai terjadi, ketika harga pangan naik, petani tidak ikut menikmati. Tetapi, ketika harga pangan turun, mereka diminta untuk tetap bercocok tanam. Semoga pemerintah bersedia belajar dari kasus lonjakan harga pangan yang telah terjadi bertahun-tahun yang hingga kini belum juga ditemukan solusi yang benar-benar efektif.
Oleh setiap pemerintah daerah yang ada.


















