PotretOne.com, Sanana,- Sejumlah pekerja PT MTP yang beroperasi di Desa Falabisahaya, Kecamatan Mangoli Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, mengeluhkan sistem kerja borongan yang diduga tidak menerapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) serta jam kerja yang melebihi batas wajar.
Para pekerja menyebutkan, sistem borongan diterapkan tanpa kejelasan standar upah. Jam kerja bervariasi antara 8 hingga 12 jam per hari, namun penghasilan yang diterima dinilai jauh dari layak.
“Satu meja itu dikerjakan dua orang. Total borongan Rp1.700, lalu dibagi dua. Jadi hasilnya sangat kecil,” ungkap salah satu pekerja kepada wartawan melalui via telpn WhatsApp, Senin kemarin.
Akibat sistem tersebut, sebagian pekerja mengaku hanya menerima upah sekitar Rp200.000 per bulan. Bahkan, pada pembagian gaji terakhir, banyak karyawan disebut memilih langsung pulang karena kecewa dengan hasil yang diterima.
“Saya bicara dengan teman di bagian lain. Waktu terima gaji borongan kemarin, mereka langsung pulang semua karena kecewa,” kata pekerja lainnya.
Menurut keterangan karyawan PT MTP, upah tertinggi yang diterima pekerja hanya sekitar Rp2.500.000 per bulan, sementara upah terendah berkisar Rp200.00-500.000 per bulan.
“Gaji paling tinggi Rp2.500.000, paling sedikit Rp200.000-500.000. Saya sampai geleng kepala. Kalau UMP diterapkan, setidaknya bisa menutup kebutuhan,” ujarnya.
Diketahui, sistem borongan tersebut telah berjalan sejak bulan lalu. Namun, upah baru dibayarkan sekaligus pada bulan berikutnya dan bulan berjalan, sehingga menambah beban ekonomi para pekerja.
Para pekerja juga mengaku berada dalam posisi dilematis untuk menyampaikan keluhan. Sebab, mayoritas pekerja berstatus sebagai “mitra”, bukan karyawan tetap.
“Semua pekerja di sini statusnya mitra. Jadi kalau mau komplain soal hak-hak, kita serba salah. Bukan tidak mau, tapi kalau komplain bisa dicap merah,” ungkap seorang pekerja meminta identitasnya di rahasiakan
Lebih lanjut, muncul dugaan adanya oknum tertentu yang mengambil keuntungan dari sistem kerja borongan tersebut.
“Kemarin ada pernyataan bahwa ada oknum-oknum yang mengambil keuntungan di balik semua ini. Jadi pertanyaannya, kenapa harus kami yang dikorbankan,” kata salah satu pekerja PT MTP melalui sambungan telepon WhatsApp.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PT MTP belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan para pekerja. Media ini masih berupaya menghubungi pihak perusahaan serta instansi terkait untuk memperoleh klarifikasi.


















