PotretOne.com, Sanana (Malut) – Pilkada 2024 semakin medekat, politik semakin terlihat seperti sinetron, namun tidak berisi. Ruang diskusi, pertemuan bahkan sindiran di media sosial dan bahkan baleho semakin banyak terpampan dimana-mana. Padahal, tanpa disadari saat ini rakyat telah menghadapi kesulita kerena lapangan pekerja, kesehatan dan pendidikan, apa lagi saat ini harga-harga sembilan bahan mokok yang beranjak naik.
Sayangnya, para calon kepala daerah yang namanya suda mulai muncul sampai ketelinga masyarakat bahkan di plosok-plosok desa dan mereka tidak memperdebatkan isu-isu yang dihadapi rakyat saat ini. Yang ada hanya tentang diskusi politik, bahkan joget tiktok. Kalu ada diskusi-diskusi isu tertentu, seperti pembangunan infastruktu, lapangan kerja, pendidikan dan kesehatan, isinya tidak lebih dari pada apa yang di harapkan oleh masyarakat saat ini.
Barangkali ini disebabkan karena kita tidak dibiasakan untuk diskusi tentang gagasan, tetapi lebih cenderung melihat kondisi status sosial. pemekiran seperti itu lah tidak di undang untuk didiskusikan. Bahkan, diam dan dianggap sebagai orang bijak. Selamah pulu tahun daerah ini di mekarkan, pendidikan yang diberikan dengan cara seperiti ini. Seperti Sekolah mendidik murid-murid secara dogmatis atau dari guru ke murid. Bukan pemikiran kritis yang dijadikan sebagai tujuan pendidikan, melainkan penghafalan dogma.
Bisa dikatakan, isu Pilkada saat ini mulai hangat bahkan para calon-calon kepala daera mulai tampil dengan sejuta opini politik yang sangat meyakinkan. Repotnya setiap momentum ketika pemimpin yang lahir dari rakyat untuk rakyat mereka lebih cenderung menerapkan sistem ketergantungan di negeri ini.
Padahal di negeri ini, banyak generasi yang memiliki kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang cukup, seharusnya dapat di perhatikan para pemimpin yang lahir dari rakyat atau di pilih rakyat. Apakah karena perbedaan politik ? bukankah kelian tampil dengan visi-misi yang meyakinkan untuk membangun negeri ini dengan baik, sementara sistem yang diterapkan masi ada perbedaan bahkan sistem ketergantungan.
Para generasi muda saat ini sangat merindukan sosok pemimpin yang iklas untuk membuat perubahan tanpa melihat status sosial. Semoga Pilkada kali ini, para calon-coalon pemimpin yang berlomba-lomaba merebut kursi kepala daerah menjadi suri teladan bagi masyarakat nantinya. (**)















