Potretone.com, Halut,- Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, Forum Perempuan Lintas Organisasi Kepemudaan (FPLOKP) Kabupaten Halmahera Utara menggelar diskusi publik bertema spesial yang menyoroti isu penting kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.
Kegiatan yang berlangsung di Kampoeng Planet Galaxy Mart Tobelo pada Jumat (17/10), ini mengangkat tema:
“Sumpah Pemuda dan Suara Perempuan Merajut Solidaritas Melawan Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak.”
FPLOKP merupakan kolaborasi strategis lintas organisasi kepemudaan di Halmahera Utara yang terdiri dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), komunitas Sulu Perempuan, dan Liga Mahasiswa untuk Demokrasi (LMND). Forum ini lahir dari keprihatinan bersama terhadap tingginya angka kekerasan seksual yang menyasar perempuan dan anak di wilayah Halmahera Utara.
Diskusi ini menghadirkan berbagai narasumber lintas sektor yang relevan dan berkompeten di bidangnya, di antaranya sebagai berikut :
1. Brigpol Ayub R. Tampubolon (Polres Halmahera Utara)
2. Selfina Manery, Amd. Keb (Perwakilan PPA Pemda Halut)
3. Imelda Kahiking, S.Th., M.Th (Akademisi Unhena)
4. Akfa Radian Iftihar, S.H (Kejaksaan Negeri Halut)
Pada kesempatan itu Ketua KNPI Halut, Femi Kukus, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebagai ruang refleksi Sumpah Pemuda, namun juga sebagai sarana edukasi dan penyadaran publik akan pentingnya melindungi perempuan dan anak dari tindak kekerasan seksual.
“Kami melihat lonjakan kasus kekerasan seksual sebagai ancaman nyata terhadap masa depan generasi muda. Karena itu, melalui diskusi ini, kami ingin membangun kesadaran kolektif dan membentuk solidaritas lintas organisasi pemuda sebagai agen perubahan di masyarakat,” ujar Femi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa FPLOKP ingin hadir sebagai mitra strategis pemerintah, lembaga penegak hukum, serta masyarakat sipil dalam mendorong sistem perlindungan yang lebih kuat bagi kelompok rentan, sekaligus mengarusutamakan isu kesetaraan gender di kalangan pemuda.
“Kami harap kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti pada tataran diskusi, tetapi melahirkan gerakan nyata di lapangan, yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya perempuan dan anak,” tambahnya.
Diskusi publik ini juga menjadi momentum penting bagi FPLOKP untuk menyuarakan bahwa peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan titik tolak bagi kaum muda terutama perempuan untuk berperan aktif membangun masyarakat yang aman, adil, dan setara.
Kegiatan ditutup dengan pernyataan sikap bersama dari seluruh peserta yang hadir, meneguhkan komitmen untuk terus merawat semangat persatuan dan perjuangan Sumpah Pemuda dalam konteks kekinian yakni memperjuangkan keadilan gender, perlindungan terhadap kelompok rentan, dan penghapusan segala bentuk kekerasan seksual. (Chen)



















