Ditulis Oleh: Fahrin Umarama
PotretOne.com,- Sepak bola adalah satu-satunya cabang olahraga yang mampu menembus sekat negara, budaya, bahasa, bahkan agama. Ia bukan sekadar permainan 11 lawan 11, melainkan bahasa global yang dipahami oleh semua kalangan. Tak heran jika sepak bola memegang rekor dunia sebagai olahraga dengan jumlah penonton dan basis penggemar fanatik terbanyak di planet ini.
Lewat sepak bola, cakrawala anak-anak tentang dunia terbuka lebar. Negara-negara kecil yang mungkin luput dari pelajaran geografi justru melekat kuat dalam ingatan generasi muda. Portugal, Spanyol, Kroasia lebih dikenal dan dielu-elukan ketimbang Kanada negara besar yang minim prestasi sepak bola. Bahkan Cristiano Ronaldo dikenal jauh lebih luas oleh masyarakat dunia dibandingkan presiden negara adidaya Amerika Serikat, Donald Trump. Inilah bukti bahwa sepak bola punya kekuatan simbolik dan daya ingat kolektif yang luar biasa.
Sepak bola juga telah mengubah nasib manusia. Cristiano Ronaldo CR7 berangkat dari kehidupan miskin hingga menjelma ikon global. Anak-anak Brasil berlatih di gang-gang sempit, bermain tanpa fasilitas mewah, namun justru kondisi itulah yang membentuk karakter, teknik, dan budaya samba yang akhirnya mengangkat mereka berkali-kali ke puncak dunia. Sadio Mané, yang tumbuh bermain di lapangan berlumpur tanpa rumput di kampung halamannya, kini menjadi kebanggaan negaranya dan salah satu pesepak bola terbaik dunia. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang, selama ada pembinaan, mimpi, dan keberpihakan sistem.
Di Indonesia, Kampung Tulehu di Maluku menjadi contoh nyata. Desa pesisir di antara Selat Haruku, Saparua, dan Pulau Seram ini dikenang sebagai “kampung sepak bola” sekaligus desa pemersatu lintas agama. Dari sore hingga senja, anak-anak Tulehu berlatih di pesisir pantai. Bagi mereka, kaki dan bola adalah kehidupan. Dari sana lahir pemain-pemain nasional yang mengharumkan nama Maluku dan Indonesia.
Tulehu bangkit dari krisis persaudaraan dengan menjadikan sepak bola sebagai alat pemersatu dan jalan masa depan. Ornamen berbentuk bola, tugu sepak bola, hingga fasilitas latihan terus dikembangkan. Meski Maluku dikenal sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang lambat, daerah ini justru konsisten melahirkan talenta sepak bola yang menjadi primadona di kancah nasional. Sepak bola terbukti mampu mengubah nasib individu, memperkenalkan daerah, mempersatukan masyarakat, dan mengangkat martabat suatu wilayah.
Dengan potensi sebesar itu, seharusnya ajang sepak bola tidak diperlakukan sekadar sebagai agenda seremonial tahunan. Bukan sekadar perebutan trofi, foto bersama, lalu selesai cerita. Sepak bola mestinya dijadikan instrumen pembangunan sumber daya manusia, ajang pencarian bakat, dan investasi jangka panjang bagi generasi muda.
Idealnya, pembinaan usia dini digerakkan secara berkelanjutan. Kompetisi rutin tingkat desa dan kecamatan digelar secara konsisten. Lapangan-lapangan desa dirawat dan difungsikan sebagai pusat latihan, bukan dibiarkan terbengkalai. Kabupaten harus memiliki stadion atau lapangan representatif yang dikelola secara profesional oleh dinas terkait, bukan sekadar menyewa atau meminjam fasilitas.
Setiap gelaran Bupati Cup, misalnya, semestinya menjadi etalase bakat. Pemain-pemain potensial dipantau, dibina, lalu ditawarkan ke jenjang yang lebih tinggi Liga 4, Liga 3, Liga 2, Liga 1, bahkan tim nasional. Di sinilah peran pemerintah menjadi krusial: membangun infrastruktur, memastikan pembinaan, dan membuka jalur prestasi yang jelas bagi anak-anak daerah.
Sayangnya, realitas sepak bola di Kepulauan Sula masih jauh dari harapan. Banyak lapangan desa yang berubah fungsi menjadi tempat pembuangan kotoran ternak, tak terawat, dan nyaris tak digunakan. Lapangan yang dipakai untuk ajang Bupati Cup pun kabarnya hanya berstatus pinjaman, bukan aset daerah yang dikelola secara serius oleh Dispora. Pembinaan usia dini dan kompetisi tingkat kecamatan jarang terselenggara. Akibatnya, gelaran sepak bola dinilai publik hanya menjadi ajang menghabiskan anggaran di akhir tahun, tanpa arah dan dampak jangka panjang.
Kepulauan Sula sendiri masih menjadi wilayah yang nyaris tak dikenal di tingkat nasional. Berbeda dengan Banda, Mentawai, Sumba, atau Batam yang memiliki identitas kuat dan daya tarik tersendiri. Lalu, Sula ingin dikenang sebagai apa? Jika masih ada peluang untuk membangun ingatan kolektif bangsa tentang Sula, maka sepak bola adalah salah satu jalannya.
Jika desa-desa di Afrika dan Tulehu di Indonesia mampu melahirkan pemain nasional dan internasional, maka Kepulauan Sula pun memiliki peluang yang sama. Rizky Pora telah membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil. Generasi berikutnya bisa lahir, asalkan ada dukungan penuh dari masyarakat dan kebijakan pemerintah yang berpihak.
Tanpa visi, sepak bola hanya akan menjadi hiburan sesaat. Namun dengan perencanaan, pembinaan, dan keberanian mengambil keputusan, sepak bola bisa menjadi jalan masa depan Kepulauan Sula jalan untuk dikenang, dibanggakan, dan diharapkan.


















