by: Bang Mo Umasugi
PotretOne.com, Sanana – Pagi ini cuaca mendung di atas kota Sanana, seperti biasa, saya dan beberapa teman berkumpul di JS Coffe tempat ngopi yang perlahan menjadi titik temu ide, keresahan, dan harapan. Kami duduk di sudut yang menghadap jalan utama, menyeruput kopi hitam dan sesekali tertawa kecil di tengah obrolan yang mulai serius. Topik utama pagi ini bukan tentang politik, bukan juga tentang rencana akhir pekan, tapi tentang wajah kota kita sendiri Sanana, yang kian hari kian terlihat kumuh.
Saya memulai dengan satu kalimat yang memantik diskusi: “Kota ini kayaknya makin jauh dari kata layak ditinggali ya.” Seorang teman menimpali dengan nada setengah marah, “Apalagi kalau hujan turun, got mampet, jalan becek, bau tak sedap. Padahal ini ibu kota kabupaten!”
Kami pun sepakat bahwa Sanana mengalami degradasi tata kota yang nyata. Ketika kota lain berlomba memperindah kawasan pesisir atau memperbaiki drainase, kita malah sibuk membiasakan diri dengan sampah berserakan, bangunan liar yang makin semrawut, dan infrastruktur jalan yang rusak tak berujung. Padahal, Sanana bukan kota baru. Ia adalah pusat pemerintahan, perdagangan, dan pendidikan di Kepulauan Sula. Tapi hari ini, wajahnya jauh dari representasi peradaban.
Diskusi kami lalu beralih ke soal perencanaan tata ruang. “Jangan-jangan kita ini korban dari pembangunan tanpa perencanaan,” celetuk salah satu teman. Dan saya rasa itu benar. Banyak kebijakan terlihat reaktif, bukan strategis. Trotoar dibangun lalu dibiarkan rusak. Drainase digali tanpa arah. Bangunan komersial bermunculan tanpa memperhatikan aspek lingkungan. Bahkan, ruang terbuka hijau nyaris tak ditemukan jika ada, mungkin hanya tersisa dalam wacana RPJMD.
Kumuh itu bukan hanya soal fisik, tapi juga mental kolektif. Ketika masyarakat terbiasa buang sampah sembarangan dan pemerintah membiarkan itu terjadi, maka kota kehilangan akal sehatnya. Tanggung jawab bersama itu hilang, digantikan sikap saling menyalahkan.
Ironisnya, semua kegelisahan ini mencuat di tengah semarak perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kepulauan Sula yang ke-22. Panggung besar dibangun, spanduk ucapan selamat membentang di berbagai sudut, dan deretan kegiatan seremonial mewarnai ruang publik. Namun di balik gegap gempita itu, wajah kota yang sesungguhnya tetap tak tertutupi: Sanana kumuh, kumuh secara fisik, dan sayangnya juga dalam visi pembangunan.
Apakah pantas sebuah kabupaten yang sudah menginjak usia dua dekade lebih masih memiliki wajah ibu kota seperti ini? Perayaan ulang tahun seharusnya menjadi momentum refleksi: sejauh mana pembangunan telah menjangkau kebutuhan dasar masyarakat? Apakah makna “berkembang” hanya sebatas pesta dan lomba, tanpa evaluasi terhadap tata ruang, lingkungan, dan kualitas hidup warganya?
Di tengah kopi yang mulai dingin, saya dan teman-teman menyimpulkan satu hal: kota ini butuh narasi baru. Sanana butuh visi ruang yang tidak hanya estetis, tapi juga sehat, berkelanjutan, dan manusiawi. Ini tidak cukup hanya dengan proyek tambal sulam. Butuh kepemimpinan yang berani menata ulang dari hulu ke hilir dari regulasi, penegakan hukum lingkungan, hingga perubahan pola pikir warganya.
Kami tahu, diskusi pagi ini mungkin tidak mengubah keadaan. Tapi diskusi kecil di JS Coffee membuat saya sadar: bahwa perubahan selalu lahir dari kesadaran yang jujur dan keberanian untuk berkata cukup sudah kota ini dibiarkan tumbuh tanpa arah. (**)
JS Coffe, 17 Mei 2025



















