Sanana,Potreone.com,- Menanggapi pemberitaan sebelumnya yang menyebut adanya dugaan aksi teror terhadap camp pengelolaan kayu milik CV. Anugerah Empat Mangoli Mandiri (AEMM) di Desa Wailoba, Kecamatan Mangoli Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula, pihak yang disebut dalam berita tersebut, Samsuddin Teapon, akhirnya memberikan klarifikasi.
Samsuddin menegaskan bahwa kehadirannya di lokasi perusahaan bukan untuk melakukan ancaman, melainkan sebagai bentuk protes atas aktivitas perusahaan yang dinilai telah beroperasi di lahan miliknya tanpa izin dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Saya memang datang dengan nada marah karena mereka sudah bekerja di lokasi saya tanpa pemberitahuan. Tapi saya tidak datang untuk mengancam siapa pun,” ujar Samsuddin Teapon kepada wartawan, Senin (10/11/2025).
Menurutnya, tindakan tersebut murni didorong oleh rasa kecewa terhadap pihak perusahaan, terutama karena pihak manajemen CV. AEMM yakni Direktur dan Manajer perusahaan tidak kunjung menemui dirinya untuk berdialog secara baik-baik, bahkan disebut meninggalkan Desa Wailoba saat dirinya berupaya mengajak berbicara.
“Saya sudah minta mereka datang bicara secara baik di desa, tapi malah pergi. Itu yang membuat saya emosi,” jelasnya.
Menanggapi tudingan bahwa dirinya membawa parang dan mesin sensor untuk menakuti pekerja, Samsuddin memberikan bantahan tegas. Ia menyatakan, alat-alat tersebut dibawa bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai simbol protes atas ketidakadilan yang ia rasakan.
“Parang saya tetap di sarung, mesin sensor juga dalam keadaan mati. Saya hanya ingin menunjukkan kekecewaan karena mereka bekerja seenaknya di tanah saya tanpa izin,” tegasnya.
Samsuddin menambahkan, dirinya tidak pernah mengarahkan ancaman kepada para pekerja di camp. Ia hanya meminta agar aktivitas sementara dihentikan sampai pihak perusahaan bersedia bertemu dan membicarakan persoalan lahan tersebut secara terbuka dan damai.
“Saya cuma bilang hentikan dulu pekerjaan sampai kita selesaikan masalah ini secara baik-baik. Tidak ada ancaman seperti yang diberitakan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Samsuddin menilai pemberitaan sebelumnya terlalu sepihak karena hanya mengutip keterangan dari pihak perusahaan tanpa melakukan konfirmasi kepadanya. Ia berharap media dapat bersikap objektif dan berimbang dalam memberitakan setiap peristiwa.
“Saya harap wartawan juga datang dengar dari kami, jangan cuma dari satu pihak. Ini soal hak kami sebagai warga yang tanahnya digunakan tanpa izin,” pungkas Samsuddin. (Ra)


















