Oleh: Mohtar Umasugi
Sanana,- Pagi ini saya membaca sejumlah pemberitaan di beberapa media online tentang mengalirnya dukungan masyarakat kepada Adnan Husein di media sosial. Berita-berita itu bukan hanya menggambarkan antusiasme publik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat mulai memberikan penghargaan terhadap kerja-kerja kebudayaan yang dilakukan dengan ketulusan. Di tengah situasi media sosial yang sering dipenuhi pertentangan dan kepentingan sesaat, saya justru melihat ada sesuatu yang berbeda dalam arus dukungan tersebut. Dukungan itu lahir bukan semata karena popularitas, melainkan karena masyarakat menilai ada keterlibatan nyata dalam menjaga dan melestarikan budaya Sula.
Bagi saya, fenomena ini menjadi menarik untuk dicermati. Sebab dalam kehidupan sosial masyarakat Sula, penghormatan publik biasanya lahir dari kedekatan emosional antara tokoh dan masyarakatnya. Ketika seseorang hadir bukan hanya pada momentum seremonial, tetapi juga dalam kerja-kerja kebudayaan yang menyentuh identitas daerah, maka masyarakat akan menilai itu sebagai bentuk kepedulian yang tulus. Apa yang terlihat dalam berbagai event budaya, termasuk Gabalil Hai Sua, sesungguhnya bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan bagian dari upaya menjaga memori sejarah dan jati diri orang Sula di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat.
Saya melihat dukungan masyarakat di media sosial kepada Adnan Husein juga memperlihatkan bahwa publik hari ini semakin cerdas membaca realitas. Masyarakat bisa membedakan mana kerja nyata dan mana pencitraan sesaat. Ketika seseorang dinilai konsisten hadir dalam ruang-ruang sosial dan kebudayaan, maka apresiasi publik akan datang dengan sendirinya. Ini menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu menjadi ruang konflik, tetapi juga bisa menjadi ruang penghargaan sosial terhadap orang-orang yang dianggap memiliki kepedulian terhadap daerah dan budaya lokal.
Dalam pandangan saya, menjaga budaya bukan pekerjaan mudah. Budaya tidak cukup dijaga hanya dengan pidato atau slogan. Ia membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, gagasan, bahkan keberanian untuk terus berjalan di tengah berbagai tantangan. Banyak orang berbicara tentang pentingnya budaya, tetapi sedikit yang benar-benar mau terlibat langsung dalam proses pelestariannya. Karena itu, ketika ada masyarakat yang memberikan dukungan secara terbuka terhadap sosok yang dianggap peduli terhadap budaya Sula, maka hal tersebut harus dipahami sebagai bentuk harapan publik agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Daerah yang kehilangan budayanya perlahan akan kehilangan identitasnya. Sebab budaya bukan hanya tentang tarian, ritual, atau festival semata, melainkan tentang harga diri dan memori kolektif suatu masyarakat. Sula membutuhkan lebih banyak anak daerah yang mau berdiri di garis depan menjaga sejarah, adat, bahasa, dan tradisi agar tidak hilang ditelan zaman.
Dukungan yang mengalir hari ini sesungguhnya adalah pesan moral bahwa masyarakat masih menghargai ketulusan dan pengabdian. Dan saya percaya, kerja-kerja kebudayaan yang dilakukan dengan hati akan selalu menemukan tempat di tengah masyarakat, meskipun sering berjalan di jalan sunyi tanpa banyak sorotan.
Penulis: Akademisi STAI Babussalam Sula Maluku Utara


















