banner 728x90banner 728x90
BeritaBudayaDaerahGaya Hidup

Warkop Waimua Caffe: Ngopi Lebih Berarti di Tanah Sendiri

171
×

Warkop Waimua Caffe: Ngopi Lebih Berarti di Tanah Sendiri

Sebarkan artikel ini

Potretone.com Sanana,- Pecinta kopi dan suasana santai, kini tak perlu jauh-jauh mencari tempat nongkrong yang nyaman dan penuh rasa lokal. Hadir dengan konsep unik dan ramah pengunjung, Warkop Waimua Caffe di Desa Falahu, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula. Rabu, (1/10/25).

Menawarkan pengalaman ngopi yang berbeda, Warkop Waimua Caffe memadukan suasana klasik warung kopi dengan sentuhan modern. Mulai dari kopi robusta lokal yang diracik dengan resep khas, hingga berbagai menu ringan seperti pisang goreng, mie pedas manis, dan roti bakar favorit semua usia. Semuanya disajikan hangat dengan harga yang bersahabat.

banner 728x90

Tidak hanya sekadar tempat ngopi, Warkop Waimua Caffe juga dirancang sebagai ruang berkumpul bagi anak muda, keluarga, dan komunitas lokal. Fasilitas lengkap seperti WiFi, colokan listrik, serta area duduk indoor dan outdoor menjadikan tempat ini cocok untuk semua aktivitas, dari diskusi santai hingga kerja sambil ngopi.

“Kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar kopi. Ini tentang tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati momen bersama,” ujar pengelola Warkop Waimua Caffe.

Dalam rangka pembukaan, pelanggan bisa menikmati dan jangan lewatkan juga hiburan live music setiap malam. (Ra)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

SANANA,- Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Sula, Ir. Hi. M. Saleh Marasabessy, M.Si., bertindak sebagai inspektur upacara pada penurunan Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Berita

SANANA,- Dialog Kebangsaan yang digelar dalam rangka memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia menghadirkan ruang refleksi yang cukup serius tentang arah masa depan Kabupaten Kepulauan Sula. Mengangkat tema sentral “Sula Dalam Transisi: Antara Tersisa dan Tersisih”, dialog tersebut tidak sekadar menjadi forum seremonial, tetapi menjadi ruang untuk menguji kembali sejauh mana daerah ini mampu menempatkan dirinya dalam arus perubahan menuju Indonesia Emas 2045. Sabtu, (15/8/2026). 

banner 728x90