banner 728x90
banner 728x90
Opini

Spirit Perjuangan: Suara Masyarakat Bumi Mangoli adalah suara Kita

55
×

Spirit Perjuangan: Suara Masyarakat Bumi Mangoli adalah suara Kita

Sebarkan artikel ini

TOLAK 10 IUP PULAU MANGOLI

Oleh: Arman Buton

banner 728x90

Pemuda Sula

Kata “Dad Hia Ted Sua (Bersatu Bagun Sula)” bukan hanya sebuah frasa tanpa makna, atau selogan tanpa arti, tetapi iya adalah sebuah nilai, sebuah ikatan, dan sebuah komitmen bersama dalam menjaga “Hai Poa Bai (tanah tercinta)”.

Dari cerita petuah. Dahulu, ketika satu masalah tertimpa “Hai Sua (Tanah Sula), itu bukan masalah personal, kolompok atau suku tertentu, melainkan satu masalah kolektif atau bersama (masyarakat Sula) yang harus diselesaikan secara bersama-sama pula.

Kita bisa lihat, Tahun 1959 adalah tahun bersejarah, dimana tapal perjuangan diletakkan oleh para leluhur. Ketika kesejahteraan rakyat menjadi mimpi bersama, ketika kecerdasan generasi menjadi cita-cita bersama, maka tak ada pilihan lain selain memperjuangkan DOB. Lahirlah kemudian, orang-orang hebat seperti, Kasim Marua P, Halim Soamole dan lainya dalam sebuah perjuangan yang dinaungi lembaga yang namanya Himpunan Mahasiswa Sula (HPMS).

Leluhur kita berjuang dengan hati yang tulus dan ikhlas. Meninggalkan sejarah yang begitu heroik. Mereka menghibahkan diri untuk negeri meskipun darah, krigat dan nyawa jadi taruhannya. Meskipun diasingkan di Boven Digoel, mereka tidak tunduk diam. Mereka melawan.

Adalah sebuah spirit sejarah yang patut dicontoh. Sehingga kita dapat melihat masalah yang dihadapi oleh negeri ini adalah masalah bersama.

Hari-hari ini, suara Masyarakat Bumi Mangoli menolak 10 IUP di Pulau Mangoli mulai bergema, seakan-akan memberi alarm kepada KITA (seluruh masyarakat Sula) kalau Pulau Mangoli tidak sedang baik-baik saja.

Pulau Sulabesi tanpa Pulau Mangoli bukanlah Sula, keduanya menyatu baru bisa disebut Kepulauan Sula. Untuk itu, perjuangan penolakan 10 IUP di Pulau Mangoli harus dilihat sebagai satu masalah bersama yang harus diperjuangkan secara bersama-sama pula.

KITA, rakyat Sula, Mahasiswa dan Media tidak harus buta melihat ancaman IUP dikemudian hari di Pulau Mangoli, baik itu kerusakan lingkungan sampai konflik agraria.

Kita tidak harus tuli mendengar jeritan Aliansi masyarakat Bumi Mangoli yang berjuang sendiri, sambil menunggu banjir membunuh masyarakat Mangoli, baru kita datang dengan simpati, membawa sebungkus Mi Instan dan sebutir gandum.

Jangan tinggalkan Masyarakat Bumi Mangoli berjuang sendiri. Sebab, Yang mereka hadapi adalah kekuatan besar dengan bekingan besar.

Atas nama Hirilisasi, tentu korporasi akan di jaga Pemerintah dan di kawal DPR dengan sebabaik baiknya. Korporasi bisa menjadi mesin ATM untuk menyandara mereka yang pragmatis sehingga dengan mudah bisa mengadaikan tanah sendiri.

Korporasi adalah satu kekuatan besar yang hanya bisa ditaklukkan dengan gelombang penolakan besar pula.

Untuk itu, semoga saja masih ada mahasiswa kritis idialis yang simpatik dengan suara masyarakat Bumi Mangoli. Begitu juga, semoga ada media yang konsisten mempublikasikan suara masyarakat Bumi Mangoli.

Kita adalah anak cucu dari para pejuang hebat, darah kita mengalir idialisme pejuang. Mental kita terbentuk dari militansi para leluhur. Mari bersama-sama, kita suarakan Tolak 10 IUP Pulau Mangoli, untuk kita, dan generasi selanjutnya. Semoga (AB)

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Potretone.com, Sanana,- Angin laut di Pelabuhan Sanana siang itu berembus pelan, seolah ikut membawa kenangan-kenangan lama yang hampir terlupakan. Di antara langkah kaki para penumpang yang turun dari kapal KM. Permata Obi pada 28 April 2026, ada sekelompok orang tua yang berjalan perlahan bukan semata karena usia, tetapi karena mereka sedang memikul sesuatu yang tidak sisa-sisa budaya yang kian menipis dimakan zaman.

Berita

Potretone.com, Sanana,- Suasana hangat yang selama ini menyelimuti kebersamaan Panitia Gabalil Hai Sua (GHS) 2026 mendadak berubah haru. Sebuah video yang beredar di grup internal panitia memperlihatkan kondisi salah satu anggota mereka yang kini tengah menjalani perawatan di RSUD Sanana. Senin, (27/4/2026).Â