banner 728x90banner 728x90
BeritaDaerahMaluku UtaraNasionalUncategorized

Pernah Jual Ikan, Panjar Kelapa, Hingga Jadi Buruh Kasar, Amirudin Yakseb Raih Gelar Doktor Dengan IPK 4,00

12
×

Pernah Jual Ikan, Panjar Kelapa, Hingga Jadi Buruh Kasar, Amirudin Yakseb Raih Gelar Doktor Dengan IPK 4,00

Sebarkan artikel ini

PotretOne.com Sanana,- Jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena ia berasal dari keluarga sederhana. Jangan menganggap seseorang tidak akan berhasil hanya karena hari ini ia hidup dalam keterbatasan. Sebab, tidak ada yang benar-benar mengetahui sejauh mana seseorang mampu melangkah ketika ia memiliki tekad, kerja keras, dan keyakinan untuk mengubah nasibnya. Sabtu, (10/10/2026)

Kisah itu tercermin dalam perjalanan hidup Dr. Amirudin Yakseb, S.H., M.H., seorang praktisi hukum sekaligus dosen pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula, Maluku Utara, yang berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral (S3) di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Parepare.

banner 728x90

Pada ujian disertasi, 10 Oktober 2026, Amirudin berhasil meraih predikat Cum Laude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00. Pendidikan doktoralnya diselesaikan dalam waktu sekitar tiga tahun.

Namun, yang membuat pencapaian ini begitu bermakna bukan semata-mata gelar doktor yang kini disandangnya. Lebih dari itu, ada perjalanan panjang seorang anak dari keluarga sederhana yang pernah bekerja keras sejak usia sekolah, menghadapi keterbatasan ekonomi, dan berjuang membiayai pendidikannya sendiri.

Dari seorang anak yang pernah menjual ikan di pasar, menjadi kenek truk pengangkut pasir, memanjat pohon kelapa, hingga menjadi buruh pelabuhan dan buruh kasar di Makassar, kini ia berhasil mencapai salah satu puncak perjalanan akademiknya.

Kisah ini membawa satu pesan penting : “masa lalu boleh penuh keterbatasan, tetapi masa depan tidak harus berakhir dengan keterbatasan yang sama.”

Ketika Masa Kecil Mengajarkan Arti Perjuangan

Amirudin tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pekebun, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga.

Ia tidak tumbuh dengan segala kemudahan. Sejak kecil, ia telah memahami bahwa kehidupan membutuhkan perjuangan dan bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Ketika masih duduk di kelas III sekolah dasar, Amirudin sudah berjualan ikan di pasar untuk membantu keluarga.

Saat memasuki jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs), ia pernah bekerja sebagai kenek truk pengangkut pasir. Ketika beranjak remaja dan duduk di bangku SMA, ia menjalani pekerjaan sebagai pemanjat kelapa.

Ia juga pernah menjadi buruh pelabuhan tidak tetap, memikul karung-karung kopra di salah satu pelabuhan kecil di Kabupaten Kepulauan Sula.

Bayangkan, seorang anak yang memiliki cita-cita tentang masa depan harus mengenal kerasnya pekerjaan sejak usia dini. Tenaga dan waktunya digunakan untuk membantu keluarga, sementara keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik tetap tersimpan di dalam dirinya.

Mungkin tidak semua orang mengetahui perjuangan yang ia lalui. Tidak semua orang melihat beratnya beban yang pernah dipikulnya.

Namun, ada satu hal yang tidak hilang dari perjalanan itu: keinginan untuk terus maju.

Ia tidak membiarkan keadaan menentukan seluruh arah hidupnya. Ia tetap memiliki harapan bahwa suatu hari nanti, kerja keras yang dijalaninya akan membawanya pada kehidupan yang lebih baik.

Dari sinilah kita belajar bahwa kesuksesan tidak selalu berawal dari keadaan yang sempurna. Terkadang, kesuksesan justru dimulai ketika seseorang memilih untuk tidak menyerah dalam keadaan yang jauh dari sempurna.

Mimpinya Pernah Berubah, Tetapi Semangatnya Tidak Padam

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Amirudin sempat bercita-cita menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun, keinginan tersebut harus ia relakan karena sang ibu tidak memberikan izin.

Ia kemudian memilih melanjutkan pendidikan ke Makassar.

Awalnya, ia mendaftar di STMIK Dipanegara Makassar. Akan tetapi, keterbatasan ekonomi kembali menjadi penghalang. Kebutuhan laptop untuk menunjang perkuliahan belum mampu dipenuhi oleh keluarganya.

Ia pun mengubah rencana dan memilih Fakultas Hukum Universitas 45 Makassar, yang kini dikenal sebagai Universitas Bosowa.

Dari keputusan tersebut, perjalanan panjangnya di dunia hukum dimulai.

Pengalaman ini mengajarkan bahwa tidak semua impian harus terwujud persis seperti yang kita bayangkan. Ada kalanya jalan yang kita inginkan tertutup, rencana yang kita susun berubah, dan keadaan memaksa kita mengambil pilihan lain.

Namun, perubahan arah bukan berarti kehilangan masa depan.

Kadang-kadang, jalan yang tidak pernah kita rencanakan justru menjadi jalan yang membawa kita menuju keberhasilan.

Yang terpenting bukan seberapa sering rencana kita berubah, melainkan apakah kita masih memiliki keberanian untuk melanjutkan perjalanan.

Kuliah Sambil Menjadi Buruh Kasar, Ia Tidak Menyerah Pada Keadaan

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Amirudin kembali menghadapi tantangan ketika melanjutkan studi magister di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar pada 2011.

Biaya pendidikan dan kebutuhan hidup menjadi persoalan yang harus dihadapi.

Untuk tetap bertahan di bangku kuliah sekaligus membantu orang tua, ia bekerja sebagai buruh kasar. Ia menjalani pekerjaan pembangunan jalan serta mengerjakan rumah pribadi dan rumah kontrakan.

Ia harus membagi waktu dan tenaga antara pekerjaan dan pendidikan.

Pekerjaan yang menguras fisik tidak membuatnya berhenti belajar. Kesulitan ekonomi tidak membuatnya meninggalkan cita-cita. Ia tetap berusaha menyelesaikan pendidikan, meskipun jalan yang ditempuh tidak mudah.

Bagi sebagian orang, menjadi buruh kasar mungkin dianggap sebagai pekerjaan yang rendah. Namun, bagi Amirudin, pekerjaan halal adalah kehormatan, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Ia tidak malu bekerja menggunakan tenaga sendiri. Ia tidak malu menjalani pekerjaan berat. Ia memahami bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dengan jujur memiliki martabat.

Pada 2014, perjuangannya membuahkan hasil. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan magister dan kemudian lulus menjadi advokat setelah mengikuti seleksi profesi.

Dari perjalanan ini, ada pelajaran yang patut direnungkan, terutama oleh generasi muda.

Jangan pernah merasa rendah hanya karena pekerjaanmu hari ini belum sesuai dengan cita-citamu. Pekerjaanmu mungkin bukan tujuan akhirmu, tetapi bisa menjadi jembatan menuju masa depan yang sedang kamu perjuangkan.

Tidak ada alasan untuk malu bekerja keras demi pendidikan. Tidak ada alasan untuk menyerah hanya karena perjalanan orang lain tampak lebih mudah.

Setiap orang memiliki waktunya sendiri. Yang perlu dijaga adalah kemauan untuk terus berusaha.

Setelah Berhasil, Ia Kembali untuk Mengabdi

Setelah menyelesaikan pendidikan magister dan menekuni profesi hukum, Amirudin kembali ke tanah kelahirannya.

Pada 2015, ia bergabung dengan STAI Babussalam Sula, Maluku Utara, untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan.

Selain menjadi dosen, ia juga aktif sebagai praktisi hukum. Dalam perjalanan profesionalnya, ia pernah dipercaya menjadi bagian dari tim kuasa hukum Bupati Hendrata Thes pada periode pertama dan tim kuasa hukum Bupati H. Fifian Adeningsih Mus pada periode kedua.

Ia turut mengembangkan kapasitas akademiknya melalui penulisan buku, jurnal ilmiah, dan berbagai artikel ilmiah.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar atau meningkatkan kedudukan pribadi. Pendidikan juga dapat menjadi sarana untuk memperluas pengabdian dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Bagi anak-anak muda di Kepulauan Sula dan Maluku Utara, perjalanan Amirudin menghadirkan sebuah gambaran bahwa seseorang dapat menempuh pendidikan tinggi, membangun profesi, dan kembali berkontribusi bagi daerah asalnya.

Kita tidak harus menunggu menjadi orang besar untuk mulai memberikan manfaat. Kita dapat memulainya dari kemampuan yang kita miliki hari ini, dari lingkungan tempat kita berada, dan dari kesempatan kecil yang ada di hadapan kita.

Dari Anak Pekebun Manjadi Doktor Dengan IPK 4,00

Perjalanan Amirudin kembali mencapai tonggak penting pada 10 Oktober 2026.

Melalui ujian disertasi di Universitas Muhammadiyah Parepare, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral dengan predikat Cum Laude dan IPK 4,00.

Gelar doktor tersebut bukan sekadar pencapaian akademik. Di baliknya terdapat kisah tentang seorang anak yang tumbuh dalam keluarga sederhana, pernah menjual ikan, memanjat kelapa, mengangkat karung kopra, dan bekerja sebagai buruh kasar demi melanjutkan pendidikan.

Hari ini, semua pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang patut dijadikan pelajaran.

Bukan karena pekerjaan masa lalunya membuatnya lebih tinggi daripada orang lain, melainkan karena ia menunjukkan bahwa pekerjaan dan keadaan ekonomi seseorang tidak seharusnya menjadi ukuran untuk merendahkan cita-citanya.

Ia pernah berada dalam keadaan yang sulit. Namun, ia terus berusaha memperbaiki keadaan melalui pendidikan, kerja keras, dan ketekunan.

Kisahnya bukan janji bahwa setiap orang yang berjuang pasti memperoleh hasil yang sama. Akan tetapi, kisah ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mencoba, dan bahwa pendidikan tetap layak diperjuangkan meskipun jalannya berat.

Untuk Kamu yang Hari Ini Sedang Berjuang

Kisah Amirudin bukan hanya untuk dibaca, dikagumi, lalu dilupakan. Ada pesan yang lebih penting untuk dibawa pulang, terutama bagi mereka yang hari ini sedang menghadapi kesulitan hidup.

Untuk kamu yang berasal dari keluarga sederhana, jangan malu dengan keadaan orang tuamu.

Untuk kamu yang masih harus bekerja sambil bersekolah atau kuliah, jangan merasa bahwa perjuanganmu sia-sia.

Untuk kamu yang pernah gagal, jangan langsung menyimpulkan bahwa masa depanmu telah berakhir.

Untuk kamu yang melihat teman-temanmu berhasil lebih dahulu, jangan buru-buru merasa tertinggal.

Dan untuk kamu yang hari ini sedang bekerja keras demi membiayai pendidikan, ingatlah bahwa pekerjaan yang halal tidak mengurangi harga dirimu.

Kita semua memulai perjalanan dari titik yang berbeda. Ada yang memiliki banyak fasilitas, ada yang harus berjuang dengan sumber daya terbatas. Ada yang memperoleh dukungan penuh, ada pula yang harus mencari jalan sendiri.

Kondisi itu memang tidak selalu adil dan tidak selalu mudah. Namun, selama masih ada kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan berusaha, jangan menutup pintu harapan bagi masa depanmu.

Jangan pula mengukur keberhasilan hanya dari seberapa cepat seseorang mencapai tujuannya.

Ada perjalanan yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada impian yang harus diperjuangkan melalui banyak pengorbanan. Ada keberhasilan yang baru terlihat setelah bertahun-tahun seseorang bertahan dalam kesulitan.

“Jangan menyerah hanya karena hari ini kamu belum sampai. Jangan malu hanya karena hari ini kamu masih berjuang. Dan jangan berhenti belajar hanya karena keadaanmu belum memungkinkan untuk hidup dengan mudah.”

Masa depanmu masih dapat dibangun, satu langkah demi satu langkah.

Keberhasilan Terbesar Adalah Ketika Ilmu Menjadi Manfaat

Keberhasilan Dr. Amirudin Yakseb meraih gelar doktor dengan predikat Cum Laude dan IPK 4,00 patut diapresiasi.

Namun, gelar akademik juga membawa tanggung jawab. Ilmu yang diperoleh diharapkan dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan untuk pendidikan, pengembangan hukum, serta kemajuan masyarakat.

Semoga pencapaian ini menjadi awal dari pengabdian yang lebih luas bagi STAI Babussalam Sula, Kabupaten Kepulauan Sula, dan Provinsi Maluku Utara.

Semoga pula kisah hidupnya menguatkan semangat anak-anak muda yang sedang berjuang meraih pendidikan, terutama mereka yang merasa bahwa keadaan ekonomi telah membatasi impian mereka.

Sebab, seseorang tidak harus lahir dari keluarga kaya untuk memiliki cita-cita besar. Ia tidak harus memiliki perjalanan hidup yang mudah untuk mencoba meraih masa depan yang lebih baik.

Yang diperlukan adalah keberanian untuk memulai, kemauan untuk terus belajar, kesediaan untuk bekerja keras, dan kebijaksanaan untuk mencari jalan ketika menghadapi kesulitan.

Selamat dan sukses, Dr. Amirudin Yakseb, S.H., M.H. Semoga ilmu dan pencapaian yang diraih menjadi sumber manfaat bagi banyak orang.

PESAN DARI SEBUAH PERJALANAN

Pada akhirnya, perjalanan Amirudin menyampaikan sebuah pesan sederhana:

“Jangan malu dengan keadaanmu hari ini. Jangan merendahkan dirimu karena pekerjaanmu. Dan jangan mengubur cita-citamu hanya karena kamu berasal dari keluarga sederhana. Selama masih ada kesempatan untuk belajar dan berusaha, teruslah melangkah. Kamu tidak harus menjadi orang lain untuk berhasil; kamu hanya perlu terus memperbaiki diri dan tidak berhenti memperjuangkan masa depanmu.”

Dulu, ia menjual ikan untuk membantu keluarga.

Ia pernah menjadi kenek truk pasir, pemanjat kelapa, buruh pelabuhan, dan buruh kasar demi melanjutkan pendidikan.

Hari ini, ia menyandang gelar doktor dengan IPK 4,00.

“Dari keluarga sederhana, ia belajar tentang perjuangan. Dari pekerjaan berat, ia belajar tentang ketekunan. Dan melalui pendidikan, ia membangun jalan menuju masa depan yang lebih luas.”

Kisah ini mengingatkan kita bahwa masa lalu adalah bagian dari perjalanan, bukan vonis bagi masa depan.

Sebab, “kita tidak selalu dapat memilih dari mana kita memulai, tetapi kita dapat terus berusaha menentukan ke mana kita melangkah.”

(Tim-PO

banner 728x90banner 728x90banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90