Potretone.com, Sanana,- Ratusan masyarakat Desa Fogi, Kecamatan Sanana, larut dalam suasana haru saat menyaksikan langsung penampilan dua anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Sula, Masmina Ali Umacina dari Fraksi Partai Demokrat dan Yana Lek dari Fraksi Partai PBB. Selasa (24/3/2026).
Dalam kegiatan Pencak Silat Seni yang digelar usai Lebaran, keduanya tampil bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai perempuan tangguh yang berani menunjukkan jati diri di tengah masyarakat. Gerakan silat yang mereka peragakan tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna tentang keberanian, keteguhan, dan kebangkitan perempuan.
Momen tersebut mencerminkan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang setara dalam menjaga budaya, membangun masyarakat, serta mengambil peran strategis dalam kehidupan sosial. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa perempuan bukanlah pihak yang lemah, melainkan memiliki kekuatan, keberanian, dan keteguhan dalam menghadapi perubahan zaman.
Namun di balik bahasa formal itu, masyarakat sederhana punya cara sendiri untuk mengungkapkan rasa mereka.
“Jujur saja, torang samua sampe menetes air mata. Liat ibu-ibu dewan dua ini, bukan cuma bicara di kantor, tapi turun langsung, baku tunjuk kalau perempuan juga kuat. Ini bikin hati bangga sekali,” ujar salah satu warga dengan mata berkaca-kaca.
Warga lainnya juga menambahkan, “Biasanya torang pikir perempuan itu lemah, tapi hari ini beda. Ibu Masmina deng Ibu Yana su buktikan, perempuan juga bisa berdiri di depan, jaga budaya, jaga harga diri.”ujar salah seorang ibu-ibu
Masmina Ali Umacina dalam pernyataannya menegaskan bahwa perempuan harus terus diberi ruang untuk berkembang dan berkontribusi.
“Perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan dan pelestarian budaya. Oleh karena itu, keberanian untuk tampil dan berkontribusi harus terus didorong,” ujarnya.
Sementara itu, Yana Lek menyampaikan bahwa kebangkitan perempuan bukan sekadar wacana, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata di tengah masyarakat.
Apa yang terjadi di Desa Fogi hari itu bukan hanya sebuah pertunjukan silat, tetapi menjadi cerita yang menyentuh hati tentang perempuan yang bangkit, tentang keberanian yang ditunjukkan, dan tentang harapan baru bahwa perempuan di Kepulauan Sula tidak lagi dipandang sebelah mata.
Di mata masyarakat, hari itu sederhana, tapi maknanya luar biasa.
perempuan bukan lemah, perempuan kuat, dan hari itu mereka membuktikannya.
(RA)




















